Pergi Naik Haji dengan Rp. 100

0

Judul               : Pergi Haji Dengan Rp. 100

Penulis             : Indah Rozalina & Akhyar Gunawan

Penerbit           : Asma Nadia Publishing House

Terbit               : September 2011

ISBN               : 978-602-9055-06-1

 

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Ali ‘Imran : 97)

Panggilan berhaji bukan saja panggilan kewajiban bagi yang mampu, tapi juga panggilan hati. Panggilan jiwa. Ada banyak sekali orang yang mempunyai kemampuan finansial yang berlebih, tetapi tidak bisa berhaji atau lambat pergi berhaji tau bahkan tidak mau menunaikan ibadah haji. Sebaliknya, ada orang-orang yang dalam realitas sesungguhnya sulit untuk mewujudkan keinginan berhaji, justru orang-orang seperti inilah yang mendapat kesempatan pergi menginjak Baitullah.

Buku ini memaparkan dengan gamblang bagaimana sepasang suami istri dengan segala lika-likunya, akhirnya bisa meluluskan niat pergi ke Tanah Haram. Menunaikan rukun Islam kelima. Banyak sekali hal yang mereka alami. Cobaan dari segi keuangan, kesempatan, bahkan ujian keteguhan hati pun tidak lepas dari mereka saat mencoba berikhtiar agar bisa pergi haji.

Lewat buku ini mereka menceritakan pengalaman pribadi dan kejadian yang dialami selama proses berusaha. Tutur kata yang jujur dan apa adanya bisa mencerminkan dengan baik bagaimana perjuangan yang harus ditempuh pasangan suami istri tersebut. Dari awalnya hanya bisa bermimpi, akhirnya melakukan berbagai usaha agar bisa mewujudkan impian tersebut.

Sekali pun kami punya niat pergi haji, sekali pun sangat ingin memenuhi panggilan Allah, tapi tanpa kami sadari, tidak ada langkah nyata yang benar-benar menunjukkan niat tersebut. Kami bekerja keras mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan berharap suatu saat mungkin bisa mempunyai penghasilan lebih untuk pergi haji, atau mungkin ada rejeki nomplok, atau berbagai kemungkinan lainnya. (hal. 3)

Ternyata, mereka menyadari untuk memulai tidak harus dengan sebuah langkah yang besar. Cukup dengan sebuah langkah kecil, tapi dilakukan dengan konsisten dan berkesinambungan. Niscaya akan membawa sampai ke sebuah pencapaian yang besar. Naik haji.

Kami memulai tabungan haji tidak dengan membuka rekening di bank yang butuh ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah, tapi memulainya dengan sekeping uang seratus rupiah yang dimasukkan dalam sebuah toples bekas. Kemudian diisi logam demi logam sisa belanja. (hal.4)

Padahal jika menilik dari keadaan keuangan mereka yang pas-pasan rasanya sungguh tidak mungkin suami istri ini bisa melaksanakan haji.

Di awal masa pernikahan, kami hanya makan dengan tempe tahu setiap harinya, jangankan untuk makan dengan daging atau ayam, makan dengan lauk ikan atau telur saja hanya sesekali dalam sebulan. (hal.8)

Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.S. Ath Tholaq : 2-3)

Bagi kami, sabar adalah menerima ketentuannya sembari giat melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Menurut kami, sabar dalam artian nrima opo onone atau diam menerima apa adanya adalah sebuah kesalahan. Kesabaran harus disertai ikhtiar. Tapi ikhtiar juga harus disertai kejujuran dan kehalalan. (hal.13)

Allah Maha Adil, Allah Maha Tahu. Kalau sebelumnya kami hanya punya impian, atau hanya bermimpi tanpa memulai langkah pertama. Dengan toples dan koin pertama, Allah melihat kami sungguh-sungguh ingin pergi haji. Sejak saat itu berbagai kemudahan pun kami peroleh.(hal.31)

Rejeki kami dari waktu ke waktu justru bertambah. Bukan hanya materi saja, tapi rejeki berupa kebahagiaan. Mungkin dengan pemikiran ekonom sekuler, kami berdua itu bodoh, karena masih “bandel” menyisihkan uang untuk berhaji sementara neraca keuangan kami pas-pasan saja. Akan tetapi, Sang Maha Pemberi dan Sang Maha Kaya adalah Allah SWT, maka kami tidak pernah khawatir akan keuangan kami (hal.57)

Buku ini sangat cocok dibaca orang-orang yang memiliki impian menunaikan haji, tapi belum mapan dari segi finansial atau sering mengalami ujian keteguhan hati. Sekaligus sangat bagus untuk menjadi motivasi bagi mereka yang sudah mampu, tapi masih ragu untuk naik haji.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here