Adab Bersahabat

12

Assalamu’alaikum Warrohmatullahi wa Barokatuh,

Manusia adalah makhluk sosial. Yang artinya tidak bisa hidup sendiri. Cenderung suka berkelompok atau membentuk perkumpulan. Dimana komunitas ini merupakan tempatnya untuk berinteraksi. Misalnya seperti lingkungan tetangga, tempat kerja atau sekolah.

Sebagai makhluk sosial tentunya sesuatu yang wajar jika seorang manusia mempunyai teman dan sahabat. Teman diidentikan dengan seseorang yang melakukan aktifitas bersama dengan kita. Sedangkan, sahabat maknanya jauh lebih dalam.

Sahabat adalah orang yang menjadi tempat bertukar cerita. Pelarian di saat suntuk. Bahkan, bagi beberapa orang sahabat bisa menjadi saudara.

Islam memandang posisi sahabat sebagai individu yang punya peranan penting dalam kehidupan seseorang. Seperti Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, punya banyak sahabat yang membantu perjuangan Beliau dalam menyebar luaskan Islam.

Sahabat layaknya cerminan kita. Bagaimana sifat sahabat kita, seperti itulah cerminan diri kita yang sesungguhnya.

Bagi saya, sahabat ialah orang yang selalu ada dalam suka dan duka. Di depan sahabat saya bisa menjadi diri sendiri. Tak segan untuk menjadi memalukan atau konyol.

Di beberapa kesempatan saya sempat mengobrol dengan teman yang mengakui bahwa sahabatnya punya kebiasaan menilai orang lain terutama dari segi penampilan dan kepunyaan. Tidak jarang sahabatnya mencemooh dan menghina jika dilihat ada sesuatu yang kurang pada diri seseorang yang ditemuinya. Ada juga seorang kawan yang mengatakan bahwa sahabat-sahabatnya sering meminta barang yang dimilkinya. Padahal dia masih sangat menyukai benda tersebut, tapi takut dikatakai serta dimusuhi, maka dengan keterpaksaan diberikanlah sesuatu yang diminta itu.

Saya merasa heran sekaligus tercengang mendengar cerita-cerita tersebut. Jujur saja, dalam kamus persahabatan saya, tidak ada hal semacam itu. Ini membuat saya bersyukur dan lega karena punya sahabat yang baik. Walau pun mereka bukanlah para ahli ibadah, tetapi setidaknya saat berkumpul kami tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan obrolan yang disenangi.

Sebagai wanita, cerita-cerita tentu masih mewarnai pertemuan kami. Tapi, kami lebih banyak mengobrolkan masalah rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, hobi atau mimpi-mimpi. Gosip-gosip seputar dunia keartisan atau sinetron yang sedang naik daun tak pernah singgah dalam percakapan kami. Hanya segelintir kabar-kabar tentang orang-orang yang kami kenal saja yang menjadi warna di acara kongkow-kongkow ini.

Dalam hubungan kami pun tidak ada namanya meminta apalagi memaksa. Yang ada hanyalah memberi atau saling tukar. Saya tidak pernah merasakan bagaimana barang kesayangan saya diminta oleh sahabat apalagi sampe dipaksa segala. Meski kami sangat dekat, kami punya adab dalam menjalin persahabatan. Rasanya tidak enak dan kurang etis jika persahabatan diwarnai dengan aksi meminta-minta barang.

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam juga menerapkan adab dalam bersahabat, loh. Beliau tidak pernah meminta barang yang dimiliki sahabatnya. Begitu pula sebaliknya. Tapi, keindahan jalinan hubungan yang dimiliki beliau sungguh luar biasa. Jika ada sahabat yang mengatakan barang Rasulullah bagus, maka dengan penuh keikhlasan Beliau akan memberikannya. Padahalnya sahabatnya tak ada maksud meminta, hanya memuji saja.

Saya pernah mendengar atau membaca sebuah riwayat bahwa Allah Subhana Wa Ta’ala membenci orang yang suka meminta-minta. Karena ini menandakan orang tersebut tidak bersyukur atas apa yang sudah diberikan padanya. Atau dia memendam rasa iri hati jika melihat orang memiliki sesuatu yang lebih bagus yang tidak dimiliki olehnya. Sungguh meminta ialah perbuatan yang patut dihindari.

Apabila saya menginginkan sesuatu dari sahabat, kami memilih untuk barter. Jadi, tidak ada yang merasa dirugikan. Solusi win win.

Sebagai ganti ‘meminta’ kami akan saling memberi oleh-oleh, hadiah ulang tahun, atau saling mentraktir makan. Semua itu dilakukan tanpa ada paksaan. Lebih kepada rasa saling menghargai, menghormati dan menyayangi.

Adab seperti inilah yang saya rasa mampu menjalin sebuah hubungan yang indah. Dimana individu yang terlibat di dalamnya tidak merasa terpaksa, tersinggung atau tidak ikhlas.

Semoga tulisan saya ini bisa memberikan sedikit pencerahan bagi yang membaca. Pun untuk saya sendiri, ini menjadi bahan introspeksi untuk ke depan nanti. Agar saya bisa menjadi pribadi dan sahabat yang lebih baik lagi.

 

Wassalamu’alaikum Warrohmatullahi wa Barokatuh.

12 COMMENTS

  1. Indahnya persahabatan. Namun lebih indah bila setiap pasangan suami istri adalah sahabat satu dan lainnya. Kebanyakan kan orang bisa bersahabat dg yg lain, tidak dg pasangan sendiri

    • Alhamdulillah…saya dan suami bersahabat jadi hampir semua hal bisa diobrolkan termasuk mantan masing-masing hehehe

  2. Menjalin hubungan yang indah, di mana individu yang terlibat di dalamnya tidak merasa terpaksa, tersinggung atau tidak ikhlas saat menjalaninya.
    Setuju sekali dengan ini.
    Semua memang ada adabnya termasuk dalam hal persahabatan.
    Ulasan yang menarik, mbak.

  3. Persahabatan adalah ikatan pertemanan berlandas ketulusan, saling menerima apa adanya namun tetap saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Alhamdullillah, saya beruntung dikelilingi sahabat2 yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here