Adelaide (1)

0

Mungkin tidak ada yang percaya jika ada yang mengatakan gadis itu belum menikah. Ah, terlalu jauh kita berpikir. Bagaimana kalau kukatakan gadis itu belum pernah mempunyai kekasih. Atau belum pernah pacaran seumur hidupnya. Sebagian besar orang akan tertawa dan menebak bahwa aku sedang berbohong. Aku sendiri sebenarnya tidak percaya bisa mengetahui kenyataan yang lumayan pahit ini. Tetapi jika mengingat gadis itu adalah sahabatku, aku berani bersumpah aku tidak bohong dengan asal membual dan mengatakan bahwa dia tak pernah pacaran.

Yang bisa kuingat, kami bersahabat sejak zaman dulu. Semenjak kami masih direncanakan oleh orang tua kami. Orang tuaku dan orang tuanya bersahabat karib. Secara otomatis setelah kami lahir kami pun menjadi sahabat. Watak kami sangat berbeda jauh. Aku selalu merasa pasti wajah kami pun standarnya sangat berbeda. Tetapi dia, sahabatku tak kalah dalam meyakinkanku bahwa wajahku sebenarnya cukup manis. Dia meyakinkanku itu adalah penilaian yang objektif. Karenanya aku sangat berterima kasih. Mengingat juga bahwa yang memujiku seorang wanita yang luar biasa cantik.

Perumpamaan Snow White mungkin yang paling cocok menggambarkan dirinya. Namanya Adelaide. Panggilannya Adel. Rambutnya hitam panjang bergelombang. Bibirnya merah delima dengan wajah berbentuk hati. Sepasang matanya berwarna cokelat muda dinaungi alis tebal yang teratur. Kulitnya laksana pualam. Kepribadiannya luar biasa. Sangat baik dengan kecerdasan serta bakat diberbagai bidang. Sempurna. Semua orang yang kenal dengannya pasti akan mengatakan hal yang sama.

Jangan tanya ada berapa orang yang naksir kepadanya. Sepuluh jari kaki dan tanganku pun tidak akan sanggup untuk menghitungnya sekaligus. Percaya atau tidak, tak ada satu pun yang diterimanya sebagai pacar. Alasannya sepele saja. Tidak ada ada satu pun yang cocok. Padahal semua lelaki yang mendekati Adel adalah lelaki-lelaki yang hebat di bidangnya masing-masing. Entah itu seorang model, genius, atau pengusaha muda. Satu persamaan mereka yaitu semuanya berwajah tampan. Tentu saja yang bermuka pas-pasan dan biasa saja akan tahu diri jika mendekati wanita sekelas Adel.

Saat kami berdua memasuki jenjang perkuliahan, Adel mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya. Aku hanya bisa melongo seperti sapi ompong memandang tubuhnya yang tinggi semampai terbalut busana gamis yang tertutup. Tak ada satu lekuk tubuh pun yang terlihat. Rambutnya yang hitam tergerai berganti secarik kain panjang tebal sebagai penggantinya. Aku benar-benar takjub. Dengan semua kelebihan itu Adel memilih untuk menutupinya dan memberikan tempat istimewa untuk seorang lelaki untuk bisa melihatnya kelak. Lelaki yang sudah halal untuknya tentu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here