Bersiaplah Untuk Kemasan Polos

0

Hari tanpa tembakau sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tahun pada tanggal 31 Mei. Gerakan ini menyerukan para perokok agar berpuasa tidak merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Hari ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruk rokok terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa.

Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan organisasi kesehatan masyarakar, ataupun tentangan dari para perokok, petani tembakau, dan industri rokok.

Tiap tahun, WHO menentukan tema untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia untuk menciptakan kesatuan pesan global anti rokok. Tema ini menjadi komponen utama agenda WHO terhadapat tembakau pada tahun berikutnya. WHO mengawasi penciptaan, penyebaran, dan penyiaran materi terkait tema ini. Termasuk brosur, selebaran, poster, situs web, dan rilis untuk pers.

Pada 2008 untuk tema Pemuda Bebas Tembakau, video Youtube diciptakan sebagai upaya peningkatan kesadaran kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dalam tema Hari Tanpa Tembakaunya, WHO menekankan gagasan mengenai “kebenaran”. Tema seperti “Tembakau dapat membunuh. Jangan terkecoh” (2000) dan “Tobacco : Mematikan dalam berbagai wujudnya” (2006) menunjukkan keyakinan WHO bahwa keyakinan pribadi mengenai sifat asli tembakau dapat disesatkan. Rasional tema tahun 2000 dan 2008 menyoroti strategi pemasaran dan “ilusi” yang diciptakan oleh industri tembakau sebagai penyebab utama kebingungan ini.

Materi penyuluhan WHO menjadi pemahaman alternatif dilihat dari fakta perspektif kesehatan publik global. Materi publikasi gerakan anti tembakau ini menyajikan penafsiran resmi paling mutakhir atas riset tembakau dan data statistik untuk memberi landasan argumen anti tembakau di seluruh dunia.

Momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada tahun 2016 mengusung tema ‘Bersiaplah untuk kemasan polos’ (Get Ready For Plain Packaging), bertujuan untuk pengendalian tembakau dan mencegah dampak buruk asap rokok, termasuk pada anak. Sudahkah kita tergerak membantu, demi anak-anak di sekitar kita?

Aturan tentang kemasan polos akan mengurangi daya tarik rokok. Selain itu, juga akan membatasi penggunaan kemasan rokok sebagai bentuk iklan. Bahkan, menekan pelabelan yang menyesatkan dan meningkatkan efektivitas peringatan bahaya kesehatan.

Bungkus rokok polos mengacu pada usaha untuk membatasi atau melarang penggunaan logo, warna, gambar atau informasi promosi, selain merek dan nama produk yang dicetak dalam warna dan bentuk huruf atau font standar.

Pada bulan Desember 2012, Australia menjadi negara pertama yang sepenuhnya melaksanakan aturan tentang bungkus rokok polos. Pada 2015, Irlandia Inggris, Irlandia Utara dan Perancis telah mengesahkan UU untuk menerapkan bungkus rokok polos mulai Mei 2015. Sejumlah negara sudah dalam tahap lanjut mempertimbangkan tentang dasar hukum kemasan rokok polos, tetapi Indonesia belum sama sekali.

Aturan tegas pembatasan iklan rokok, peningkatan iklan anti tembakau dan peringatan grafis bahaya rokok, terutama dengan gambar, telah terbukti mampu mengurangi jumlah anak yang mulai merokok  dan meningkatkan jumlah perokok yang berhenti. Peringatan  grafis bahaya rokok dapat membujuk perokok untuk melindungi kesehatan bukan perokok, dengan menghindari merokok di dalam rumah dan di dekat anak. Penelitian yang dilakukan setelah dilakukan peringatan bahaya rokok bergambar di Brazil, Kanada, Singapura, dan Thailand, secara konsisten menunjukkan bahwa peringatan seperti itu secara signifikan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok.

Industri rokok telah menjadikan Indonesia sebagai ladang untuk memasarkan produk-produknya karena Indonesia dinilai masih lemah dalam hal regulasi. Selain itu, dengan jumlah perokok yang tinggi dan diikuti dengan jumlah penduduk terbesar dari berbagai negara yang masih belum terakses FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), jelas merupakan daya tarik tersendiri bagi industri rokok.

Karenanya sangat penting untuk digarisbawahi bahwa rokok merupakan sebuah ancaman besar terutama untuk Indonesia. Perlu langkah yang serius dari semua elemen masyarakat, terutama pemerintah untuk dapat menurunkan angka perokok aktif. Salah satu caranya adalah mendukung sepenuhnya program-program yang diluncurkan oleh WHO termasuk dengan menggencarkan tema ‘Bersiaplah untuk kemasan polos’. Tidak cuma dengan mendukung tetapi juga dengan melakukan aksi nyata.

 

Sumber :

id.m.wikipedia.org

www.idaijogja.or.id

www.ismkmi.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here