Home Puisi

Puisi

KIDUNG RINDU SANG HAMBA

Waktu berbilang detik Masa menghitung ketika   Daras terpintal terang Mengalun lembut di sudut kalbu Syahdu kidung menandai temaram Terpekur daku dalam biru   Wirid terlontar tiada henti Hina ini serasa pergi   Daku pasti Kasih ini abadi Tiada dengki Apalagi iri Berbilang hati Bergandeng kasih Menepis benci
Ini adalah catatan hati seorang istri Wanita yang telah dipersunting oleh seorang Adam utusan Tuhan untuk menjadi belahan jiwanya Wanita berhati putih bersih yang telah berjanji setia menjadi pelengkap tulang rusukmu yang hilang Wanita itu yang dengan penuh cinta memasakkan makanan untuk kau makan Wanita itu yang akan selalu menyambutmu dengan senyuman  sekalipun...

Kamu

Diamku ini hanya sebatas kata Doa yang kandas di bibir bidadari Berlinang bagai hujan di mataku   Angkuhku berdentam-dentam Merengkuh melodi Denyut ini, dedau ini kuteriakkan hanya untukmu   Aku bagai punggur Tergeletak mati Bernyawa jika kau sentuh   Aku adalah pacal Dan kau titah Aku pungguk Dan kau purnama   Meringiklah aku akan masa lalu Padahal dia sudah sirna diterpa waktu   #TantanganODOP6 #onedayonepost #odopbatch 6 #fiksi #nonfiksi

Air Mata Rohingya

Wara wiri berita akhir-akhir ini memuat pembantaian dan pembakaran perkampungan etnis Rohingya di Myanmar. Duka nestapa yang menyapa mereka terasa sampai ke seluruh dunia. Terutama Indonesia. Tidak sedikit yang berbondong-bondong memberikan sumbangan. Banyak juga yang terjun langsung ke perbatasan Bangladesh untuk mengurusi keperluan mereka. Atas dasar kesadaran sebagai sesama manusia. Ini bukan kali pertama kaum...

YA ALLAH AKU JATUH CINTA

Ya Allah... Aku Jatuh Cinta... Ya Rabb... sang penguasa dan pencipta alam dan isinya.. sang penguasa hati.. engkau menganugerahkan aku sebuah rasa yg paling menakutkan.. juga paling indah yg bisa terlukiskan Kegundahan ini debar jantung ini tak bisa hilang... tak bisa berhenti... Tiap kali kumenatap seleret kalimat segumam kata sekilas gambar Tiap kali kumengingat setiap detik juga menit dan jam Membawaku semakin dekat dekat...dekat... yg mencengkeram hati tanpa mau dilepaskan tak mau juga kulepaskan Wahai Rabb... haruskah...

Perempuan….

dari tulang rusuk Adam gemulai nan elok seujung rambut sampai seujung kakinya Menimbulkan fitnah Mulai dari ujung kaki sampai rambut Perempuan...tahukah engkau? Saat engkau berkaca Apa yang kau lihat? Seraut wajah manis nan cantik? Ataukah hanya guratan kehidupan penuh dosa? Dan aku adalah perempuan Saat kuberkaca Yang kulihat adalah diriku Perempuan...

sahabatku…

oleh Titi Nurmala Kekenusa pada 15 Desember 2009 jam 22:56 entah apa yang mengilhamiku untuk menulis ini entah apa yang kupikirkan waktu merangkai kata-kata apalagi kalau aku melirik jam weker yang ada di atas TV di kamarku aku mungkin ngeri memikirkan kalo ini sudah jam 11 malam hehehe mungkin aku juga bukannya nggak tau-tau...

SEMINGGU TELAH BERLALU

TITI NURMALA KEKENUSA detik berganti menit... menit berganti jam jam berganti hari dan tak terasa... seminggu telah berlalu dalam diamnya hati dalam kelunya bibir tiadalah yg dapat lebih diutarakan selain sebentuk perasaan lebih dari sebuah kata lebih dari sejuta makna dibalik kesederhanaanya tak taulah apa yg mungkin terjadi nanti... kesepakatanku, kesepakatanmu, kesepakatan kita janjimu, janjiku, janji kita tak taulah apa yg telah ditakdirkan... gelombang rasaku terombang ambing di...

Caranya Mencintai

oleh Titi Nurmala Kekenusa pada 07 Desember 2009 jam 21:57 kesempurnaan.... sesuatu yang banyak dicari orang sekaligus dicaci orang apakah di dalam kehidupan ini yang dicari hanyalah kesempurnaan saja Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluknya yang paling sempurna tak ada yang membedakan kecuali tingkat ketakwaannya sayangnya ada banyak manusia di muka bumi ini yang selalu merasa...

MAJU KEMUDIAN LARILAH

  Katanya Zamrud Khatulistiwa Katanya Permata diantara dua benua Negeri itu ada dimana jua adanya? Tertanam dalamnya lumpur hitamkah? Ataukah hilang ditelan banjir bandang? Mungkin tergadai karena utang?   Wahai pertiwi..anak negeri tak pernah berhenti menengadahkan tangan untukmu Seharusnya lumpur dan banjir tak menyurutkan langkahmu Para pemimpin  tak berhak menguras isimu   Ini adala doa Walaupun kadang hilang terbawa angin Tergerus idealisme Tapi asa...