Cerita di Balik Malam Amal untuk Mesjid Al-Furqon, Minahasa Tenggara

13

Dua pekan kemarin, tepatnya tanggal 14 September 2019, saya dan kawan-kawan dari beberapa komunitas sepakat membuat malam amal untuk penggalangan dana bagi Mesjid Al-Furqon, Minahasa Tenggara disertai dengan diskusi terbuka bertema perempuan (Aktualisasi Wanita Masa Kini).

Flyer kegiatan

Beberapa komunitas yang tergabung dalam kegiatan ini memang berkonsentrasi di bidang sosial. Sebutlah Hijabers Kotamobagu, Sedekah Jumat Kotamobagu, dan juga Sahabat Dhuafa. Walau ada embel-embel permintaan dana, acara ini berusaha kami kemas semenarik mungkin. Kekinian istilah sekarang. Sebabnya, kami mengajak sebuah band lokal (Sun Band) berkolaborasi menyumbangkan performance untuk semakin memeriahkan acara.

Flyer dari Sun Band

Dari anggota komunitas sendiri juga akan ikut memberikan penampilan musikalisasi puisi. Tidak lupa meminta Kedai Kampung Bogani, kafe kece yang lagi trend di ranah kaula muda Kotamobagu, agar menjadi tempat berlangsungnya kegiatan. Pemilik kafe sendiri yang merupakan anggota dewan terpilih di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, didaulat menjadi salah satu pembicara.

Alasan kami kenapa sampai memilih Mesjid Al-Furqon, Desa Tantengesan Satu Minahasa Tenggara adalah karena bangunan mesjid sangat memprihatinkan. Terbuat dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Jika dilihat sekilas tidak akan ada orang yang mengira lokasi ini adalah mesjid. Tidak layak menjadi tempat ibadah. Dindingnya banyak lubang. Atapnya bocor.

Kondisi Mesjid Al-Furqon

Selain itu, berdasarkan investigasi dari salah satu kawan Sahabat Dhuafa yang langsung meninjau lokasi, didapatkan informasi bahwa tanah untuk mesjid belum dimerdekakan. Lahan pekuburan juga tidak ada. Untuk memakamkan warga yang meninggal, penduduk desa harus menempuh perjalanan sekian kilo berjalan kaki sembari memanggul keranda yang terbuat dari kayu solid yang berat. Jamaah mesjid juga hidupnya cukup sulit. Mereka sebagian besar merupakan transmigran dari Peta, Sangihe Talaud. Mencari nafkah sebagai nelayan.

Keberadaan mereka-lah yang menggerakkan kami membuka penggalangan dana baik uang atau barang. Alhamdulillah target 15 juta dan pengumpulan berbagai barang keperluan untuk jamaah hampir tercapai.

Flyer penggumpulan uang 
Flyer pengumpulan barang

Meski dengan persiapan yang lumayan mumpuni, ternyata kenyataan di lapangan tidaklah seindah yang dibayangkan. Karena kendala teknis kegiatan kami tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Kegiatan diskusi tidak berjalan, para penampil hampir tidak jadi mengisi acara (hanya Sun Band), dan slide video dokumenter mesjid yang ditayangkan hampir dicekal.

Ini bukan salah pemilik kafe atau bahkan kami. Hanya saja ada oknum aparat yang kebetulan mereservasi beberapa spot di kafe kemudian merasa terganggu dengan kegiatan kami. Padahal kami yang duluan yang mem-booking tempat dari jauh hari. Karena ketidaksukaan itu, mereka mengintervensi kegiatan. Untuk menghindari perdebatan panjang menjadi percekcokan, akhirnya kami serta pemilik kedai sepakat untuk melaksanakan acara sekedarnya tanpa diskusi dan aksi malam amal yang lain.

Alhamdulillah walau kegiatan hampir gagal, ternyata pengunjung kafe ada yang tergerak untuk memberikan donasi. Malam itu kami berhasil mengumpulkan dana Rp.650.000,00-. Angka yang cukup lumayan untuk penampilan yang kurang berkenan.

Aksi Sun Band
Pembawa Acara
Berfoto depan banner
Beberapa anggota komunitas yang sempat hadir

Ke depannya kami berharap, kegiatan serupa akan berlangsung lebih sukses dan meriah. Serta dimudahkan dan dilancarkan. Aaamin ya Raab

13 COMMENTS

  1. Barakallah. Semoga Allah lipat gandakan pahala semua orang yang terlibat dalam malam amal itu ya, Mbak. Sayang sekali ada hal-hal tidak menyenangkan seperti itu, tetapi terkadang di situlah letak ironinya. Kita rakyat kecil ini seringkali harus mengalah demi menghindari keributan. Sabar, Mbaak. Semoga acara berikutnya lebih lancar. Aamiin.

  2. Duh, sayang banget ya, padahal sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa.Tapi memang biasa sih kayak gitu, biasanya biar lancar emang ada “keamanan”. Ya, tau sendirilah maksudnya.
    Next time mungkin bisa digabung dengan acara yang lebih besar atau masuk di kegiatan yang sifatnya mengundang khalayak. Misal di car free day. Biasanya lbh antusias.

  3. Dengan begini juga kita jadi tahu, tidak semua kebaikan akan mendapat respon yang bagus. Bisa jadi malah ada yang tidak suka. Well, setidaknya acara yang diharapkan bisa lebih baik ini, tetap berjalan dan mendapatkan apa yang diinginkan sejak awal. Meski tidak sesuai harapan.

    Good job teman-teman. Yuni salut dengan kegigihannya.

  4. Aamin semoga acara berikutnya bisa lebih berhasil dari kemarin ya, Mbak. Dan semoga banyak yang memberikan donasinya sehingga Mesjid Al Furqon bisa lebih baik lagi.
    Miris juga kalau kegiatan positif seperti itu, ada saja yang mencekal atau tidak menyukainya.

  5. Masya Allah Tabarakallah salut untuk semua yang berpartisipasi dalam malam amal untuk masjid Al Furqon Minahasa Tenggara ini.
    Semoga dimudahkan dan dilancarkan dan segera tercapai rencana yang ingin diwujudkan. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here