Cinta Itu Kamu (1)

0

Zahra dan Zainal adalah dua orang sangat berbeda yang dipertemukan dengan cara tak biasa, dengan sikap yang hampir sama persis dalam tingkat keegoisannya, dan dipisahkan dalam rentang jarak serta waktu. Akankah cinta dan pernikahan sanggup membuat mereka menyatukan dua pikiran yang berbeda dalam setiap sisinya?

***

Lantunan ayat suci terdengar dengan jelas di telinga Zainal saat dia dengan gagah berani melamar kekasihnya. Degup jantung yang bertalu-talu seakan berlomba dengan riuh rendah lantunan ayat al-Quran yang terdengar dari speaker mesjid. Walaupun kemungkinan ditolak sama besarnya dengan kemungkinan diterima. Pemuda berkulit sawo matang ini tetap maju terus pantang mundur bagaikan pasukan kemerdekaan di tahun empat lima. Hubungan jarak jauh yang dilakoninya sama sekali tidak menyurutkan langkahnya.

Jawaban “ia” yang terdengar di seberang benar-benar membuat Zainal girang bukan kepalang. Bagaikan orang yang mendapatkan rejeki bejibun di hari raya, padahal hari raya masih beberapa minggu lagi. Bulan Ramadhan baru saja menyapa.

Tak urung ucapan hamdalah mengalir dengan seruan dari bibirnya. Membuat teman satu kosnya terkaget-kaget. Yang dilamarpun ikut kaget, tak menyangka pemuda yang baru saja melamarnya akan menunjukkan reaksi seperti itu.

Sujud syukur tak lupa dilakukan Zainal setelah seruan hamdalah yang terucap. Zainal mungkin tak menyangka akan secepat itu mendapatkan jawaban “ia”. Mengingat hubungan yang dijalinnya baru seumur jagung. Seminggu.

Satu hal yang menjadi kendala hubungan mereka adalah intensitas bertatap muka. Semenjak jadian sampai dia berani melamar, Zainal sama sekali belum bertemu dengan Zahra, gadis pujaannya. Walaupun mereka sudah saling mengenal semenjak SMA tetapi setelah Zainal lulus, kuliah dan kemudian berkerja, belum sekalipun dia bertemu kembali dengan Zahra. Seseorang yang sudah mencuri hatinya semenjak pertama kali melihat gadis mungil itu berdiri memperkenalkan diri di depan kelas sebagai murid baru.

***

Hari itu, hari kedua idul fitri. Zainal berdiri di depan sebuah rumah berpagar kayu. Tangan kanannya sibuk memencet tombol handphonenya. Sementara tangan kirinya memainkan tas selempang yang bermuatan berat. Berisi lima buah buku tebal yang khusus dipesan Zahra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here