Cinta Itu Kamu (2)

0

Susah payah harus dijalani Zainal demi tunangannya itu. Bukan karena pesanan buku-buku yang tebal tetapi perjalanan yang harus ditempuhnya demi menemui sang pujaan hati. Dari Palopo sekitar tujuh jam ke Makassar dengan menggunakan bis. Dari sana menumpang pesawat sampai ke Ternate untuk lebaran hari pertama dengan keluarganya. Kemudian bela-belain terbang ke Manado dan lanjut ke Kotamobagu. Tempat tinggal Zahra. Hanya demi satu tujuan. Melamar gadis itu secara langsung di hadapan orang tuanya. Dan inilah Zainal berdiri gugup di depan rumah Zahra. Tak tahu apa yang harus dilakukannya pertama kali saat bertemu dengan gadis itu.

***

“Arrgghhh…bukan itu maksudku”. Kata Zahra dengan nada tinggi sambil menggertakkan gigi.

“Jadi maksudnya gimana dong?” suara di seberang sana juga tak kalah tinggi dari nada suaranya.

“Sudahlah, capek ngomong sama orang yang nggak ngerti.” Zahra menutup telepon dengan kesal.

Bagi Zahra, Zainal suaminya, adalah misteri besar yang susah dipecahkannya sampai dengan saat ini. Zainal seorang yang dingin dan cuek, sama sekali tidak romantis. Wajahnya yang tegas semakin menyiratkan watak kerasnya. Dan memang sungguh, dia adalah orang paling keras kepala yang pernah dikenal Zahra. Berbanding terbalik dengan karakter Zahra yang cerewet dan terlampau ceria.

Pertengkaran memang seringkali terjadi antara Zahra dan Zainal. Zahra dengan keegoisaannya dan Zainal dengan keras kepalanya. Memang sudah cukup ajaib bagaimana dua orang yang berbeda sifat dan punya level gengsi yang tinggi ini bisa menikah. Jawabannya memang cuma sederhana dan klise. Cinta. Cinta pulalah yang berhasil menyatukan mereka meskipun harus mengarungi rumah tangga dengan berjauhan alias LDR.

Sekalipun ada beberapa sifat Zainal yang memang tidak disukai Zahra contohnya sifat kepala batunya, tapi sesungguhnya banyak sekali kebaikan dan sisi positif Zainal yang tidak dimiliki oleh orang lain menurut Zahra.

Tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya di balik watak kerasnya, Zainal adalah orang yang berjiwa sosial tinggi. Zahra sering terkejut mendengarkan beberapa cerita ketika Zainal rela meminjamkan uang yang cukup banyak untuk kawan-kawannya yang memerlukan dana untuk kuliah. Dia bahkan tidak pernah menagihnya kembali.  Zahra mungkin akan berpikir seribu kali untuk melakukan itu. Jika mereka bertemu dengan pengemis dan pengamen, Zainal sering memberikan uang ala kadarnya meskipun sudah ada lebih dari satu pengemis dan pengamen yang ditemuinya. Zainal juga penyayang. Terbukti dari betapa pedulinya dia terhadap orang tua dan keluarga. Dia tidak pernah segan-segan membantu mereka. Yah, meski dalam keluargapun dia dikenal sebagai orang yang keras.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here