Cinta Itu Kamu

2

Cinta Itu Kamu

 

Zahra dan Zainal adalah dua orang sangat berbeda yang dipertemukan dengan cara tak biasa, dengan sikap yang hampir sama persis dalam tingkat keegoisannya, dan dipisahkan dalam rentang jarak serta waktu. Akankah cinta dan pernikahan sanggup membuat mereka menyatukan dua pikiran yang berbeda dalam setiap sisinya?

***

Lantunan ayat suci terdengar dengan jelas di telinga Zainal saat dia dengan gagah berani melamar kekasihnya. Degup jantung yang bertalu-talu seakan berlomba dengan riuh rendah lantunan ayat al-Quran yang terdengar dari speaker mesjid. Walaupun kemungkinan ditolak sama besarnya dengan kemungkinan diterima. Pemuda berkulit sawo matang ini tetap maju terus pantang mundur bagaikan pasukan kemerdekaan di tahun empat lima. Hubungan jarak jauh yang dilakoninya sama sekali tidak menyurutkan langkahnya.

Jawaban “ia” yang terdengar di seberang benar-benar membuat Zainal girang bukan kepalang. Bagaikan orang yang mendapatkan rejeki bejibun di hari raya, padahal hari raya masih beberapa minggu lagi. Bulan Ramadhan baru saja menyapa.

Tak urung ucapan hamdalah mengalir dengan seruan dari bibirnya. Membuat teman satu kosnya terkaget-kaget. Yang dilamarpun ikut kaget, tak menyangka pemuda yang baru saja melamarnya akan menunjukkan reaksi seperti itu.

Sujud syukur tak lupa dilakukan Zainal setelah seruan hamdalah yang terucap. Zainal mungkin tak menyangka akan secepat itu mendapatkan jawaban “ia”. Mengingat hubungan yang dijalinnya baru seumur jagung. Seminggu.

Satu hal yang menjadi kendala hubungan mereka adalah intensitas bertatap muka. Semenjak jadian sampai dia berani melamar, Zainal sama sekali belum bertemu dengan Zahra, gadis pujaannya. Walaupun mereka sudah saling mengenal semenjak SMA tetapi setelah Zainal lulus, kuliah dan kemudian berkerja, belum sekalipun dia bertemu kembali dengan Zahra. Seseorang yang sudah mencuri hatinya semenjak pertama kali melihat gadis mungil itu berdiri memperkenalkan diri di depan kelas sebagai murid baru.

***

Hari itu, hari kedua idul fitri. Zainal berdiri di depan sebuah rumah berpagar kayu. Tangan kanannya sibuk memencet tombol handphonenya. Sementara tangan kirinya memainkan tas selempang yang bermuatan berat. Berisi lima buah buku tebal yang khusus dipesan Zahra.

Susah payah harus dijalani Zainal demi tunangannya itu. Bukan karena pesanan buku-buku yang tebal tetapi perjalanan yang harus ditempuhnya demi menemui sang pujaan hati. Dari Palopo sekitar tujuh jam ke Makassar dengan menggunakan bis. Dari sana menumpang pesawat sampai ke Ternate untuk lebaran hari pertama dengan keluarganya. Kemudian bela-belain terbang ke Manado dan lanjut ke Kotamobagu. Tempat tinggal Zahra. Hanya demi satu tujuan. Melamar gadis itu secara langsung di hadapan orang tuanya. Dan inilah Zainal berdiri gugup di depan rumah Zahra. Tak tahu apa yang harus dilakukannya pertama kali saat bertemu dengan gadis itu.

***

“Arrgghhh…bukan itu maksudku”. Kata Zahra dengan nada tinggi sambil menggertakkan gigi.

“Jadi maksudnya gimana dong?” suara di seberang sana juga tak kalah tinggi dari nada suaranya.

“Sudahlah, capek ngomong sama orang yang nggak ngerti.” Zahra menutup telepon dengan kesal.

Bagi Zahra, Zainal suaminya, adalah misteri besar yang susah dipecahkannya sampai dengan saat ini. Zainal seorang yang dingin dan cuek, sama sekali tidak romantis. Wajahnya yang tegas semakin menyiratkan watak kerasnya. Dan memang sungguh, dia adalah orang paling keras kepala yang pernah dikenal Zahra. Berbanding terbalik dengan karakter Zahra yang cerewet dan terlampau ceria.

Pertengkaran memang seringkali terjadi antara Zahra dan Zainal. Zahra dengan keegoisaannya dan Zainal dengan keras kepalanya. Memang sudah cukup ajaib bagaimana dua orang yang berbeda sifat dan punya level gengsi yang tinggi ini bisa menikah. Jawabannya memang cuma sederhana dan klise. Cinta. Cinta pulalah yang berhasil menyatukan mereka meskipun harus mengarungi rumah tangga dengan berjauhan alias LDR.

Sekalipun ada beberapa sifat Zainal yang memang tidak disukai Zahra contohnya sifat kepala batunya, tapi sesungguhnya banyak sekali kebaikan dan sisi positif Zainal yang tidak dimiliki oleh orang lain menurut Zahra.

Tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya di balik watak kerasnya, Zainal adalah orang yang berjiwa sosial tinggi. Zahra sering terkejut mendengarkan beberapa cerita ketika Zainal rela meminjamkan uang yang cukup banyak untuk kawan-kawannya yang memerlukan dana untuk kuliah. Dia bahkan tidak pernah menagihnya kembali.  Zahra mungkin akan berpikir seribu kali untuk melakukan itu. Jika mereka bertemu dengan pengemis dan pengamen, Zainal sering memberikan uang ala kadarnya meskipun sudah ada lebih dari satu pengemis dan pengamen yang ditemuinya. Zainal juga penyayang. Terbukti dari betapa pedulinya dia terhadap orang tua dan keluarga. Dia tidak pernah segan-segan membantu mereka. Yah, meski dalam keluargapun dia dikenal sebagai orang yang keras.

Ada satu sikap Zainal yang membuat Zahra jengkel setengah mati. Cuek. Seringkali dia menelpon Zahra hanya karena hal-hal penting dan sangat menghindari percakapan yang tidak berkualitas. Bahkan kadang-kadang dia juga lupa menelepon Zahra. Tidak pernah menanyakan sambil lalu apakah Zahra sudah makan atau belum. Sudah mandi atau belum. Alasannya sepele saja, Zahra kan sudah dewasa. Sudah tau cari makan dan mandi sendiri. Nah loh?

Zainal juga hampir tidak pernah bilang “I Love You” dan sebangsanya. Kata Zainal, kalo sudah terlalu sering diucapkan sudah tidak sakral lagi. Saking sakralnya buat dia, Zahra masih bisa menghitung pakai jari tangan momen Zainal bilang I Love You. Parah kan? Jadinya Zahra sering ngomel-ngomel sama Zainal minta perhatian.

Meskipun begitu sebenarnya banyak hal yang dilakukan Zainal untuk menunjukkan rasa cinta, sayang dan perhatiannya. Zahra tau betul itu walaupun Zainal susah mengakuinya. Contohnya Zainal masih ingat betul warna pakaian yang dikenakan Zahra saat mereka pertama kali bertemu. Zahra saja sudah tidak ingat ketemu Zainal dimana dan kapan. Wong mereka berdua satu SMA dulu. Bisa saja kan Zainal berpapasan dengan Zahra tapi tidak disadarinya. Atau waktu Zahra sakit atau tidak enak badan ketika mereka bertemu. Penuh perhatian pria itu akan memasakkan makanan, membuatkan teh manis, menyuapi atau tidak masuk kantor sekalian untuk menjaga Zahra.

Setiap mereka jalan bersama, tidak jarang Zainal akan mengelus puncak kepala Zahra. Mengecup lembut bahu Zahra atau punggung tangannya. Atau juga di saat tertentu yang tidak diduga-duga Zainal akan mendaratkan ciuman kilat di pipi yang sering membuat Zahra terkejut dan memunculkan rona kebahagiaan di wajahnya. Dan banyak hal lain yang dilakukan Zainal sebagai ekspresi rasa cintanya kepada Zahra.

Dingin. Sifat Zainal inilah yang sering bikin Zahra makan hati. Saking dinginnya kadang-kadang Zainal tidak ngeh kalau istrinya sedang dalam masa sulit seperti PMS, bete atau butuh perhatian. Sekalipun begitu, bagi Zahra, Zainal teman ngobrol yang sangat menyenangkan.

Mereka bisa melewatkan jam demi jam untuk mengobrol tentang apa saja. Catat! Apa saja. Mulai dari olahraga, sejarah, musik, film sampai agama. Zainal juga kawan yang asik diajak traveling. Dia mau-mau saja dijadikan supir kemana saja Zahra mau, he he he. Satu lagi poin plus Zainal di mata Zahra. Sebagai seorang suami, Zainal adalah imam yang sebenar-benarnya imam. Zainal tidak akan segan-segan menegur ketika Zahra melakukan atau bersikap yang kurang baik. Menegurpun bukan dengan cara menghakimi tapi menasehati. Banyak nasehat Zainal yang merubah cara pandang Zahra akan dirinya dan sikapnya terhadap orang lain. Zainal juga selalu mengingatkan Zahra untuk bersabar dan tidak perlu terlalu menanggapi kata-kata orang lain yang dikarenakan mereka belum mempunyai momongan. Anak seperti halnya rejeki. Masih misteri dan hanya Allah Subhana wa Ta’ala yang tau kapan dia akan datang.

Walaupun Zainal bukan tipe orang suka meminta maaf duluan atau lebih tepatnya gengisian, tetapi lelaki itu punya caranya sendiri untuk menunjukkan rasa penyesalannya ketika menyakiti Zahra. Salah satu momen yang sampai saat ini tidak bisa dilupakan Zahra ketika Zainal dan dia bertengkar di sebuah mall. Seperti biasa, hanya karena masalah sepele. Saat itu saking marahnya, Zahra sama sekali tidak mau berkata sepatah katapun kepada Zainal selama empat jam lebih. Apa yang dilakukan Zainal agar amarah Zahra menghilang? Sambil menunjukkan wajah penyesalan Zainal memberikan sebuah permen lolipop berbentuk hati yang besar untuk diberikannya kepada Zahra. Seketika itu juga amarah yang menggelegak dalam dada Zahra mendingin dan hilang seketika. Sampai sekarangpun permen itu masih disimpan Zahra baik-baik. Zahra terlalu sayang memakannya.

Bagi Zahra, Zainal memang bukan manusia yang sempurna. Sebagai seorang suamipun Zahra maklum saja kalau masih banyak yang kurang dari Zainal. Toh Zahra juga bukanlah istri yang sempurna bukan? Terlepas dari semua itu, Zainal sudah berjanji akan berusaha menjadi lelaki terbaik untuk Zahra. Kata-kata itu sudah cukup membuat Zahra yakin sampai dengan saat ini bahwa suaminya, Zainal, adalah orang yang mencintainya apa adanya, menerima semua kekurangannya dan selalu berusaha membahagiakannya. Sekalipun seringkali bukan dengan kata-kata puitis nan romantis seperti I Love You. Tapi bukankah “Love” adalah kata kerja bukan kata sifat. Jadi seharusnya cinta memang bukan hanya dikatakan tetapi dilakukan, dikerjakan dan dibuktikan.

 

 

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here