Cinta Itu Kamu (4)

0

Mereka bisa melewatkan jam demi jam untuk mengobrol tentang apa saja. Catat! Apa saja. Mulai dari olahraga, sejarah, musik, film sampai agama. Zainal juga kawan yang asik diajak traveling. Dia mau-mau saja dijadikan supir kemana saja Zahra mau, he he he. Satu lagi poin plus Zainal di mata Zahra. Sebagai seorang suami, Zainal adalah imam yang sebenar-benarnya imam. Zainal tidak akan segan-segan menegur ketika Zahra melakukan atau bersikap yang kurang baik. Menegurpun bukan dengan cara menghakimi tapi menasehati. Banyak nasehat Zainal yang merubah cara pandang Zahra akan dirinya dan sikapnya terhadap orang lain. Zainal juga selalu mengingatkan Zahra untuk bersabar dan tidak perlu terlalu menanggapi kata-kata orang lain yang dikarenakan mereka belum mempunyai momongan. Anak seperti halnya rejeki. Masih misteri dan hanya Allah Subhana wa Ta’ala yang tau kapan dia akan datang.

Walaupun Zainal bukan tipe orang suka meminta maaf duluan atau lebih tepatnya gengisian, tetapi lelaki itu punya caranya sendiri untuk menunjukkan rasa penyesalannya ketika menyakiti Zahra. Salah satu momen yang sampai saat ini tidak bisa dilupakan Zahra ketika Zainal dan dia bertengkar di sebuah mall. Seperti biasa, hanya karena masalah sepele. Saat itu saking marahnya, Zahra sama sekali tidak mau berkata sepatah katapun kepada Zainal selama empat jam lebih. Apa yang dilakukan Zainal agar amarah Zahra menghilang? Sambil menunjukkan wajah penyesalan Zainal memberikan sebuah permen lolipop berbentuk hati yang besar untuk diberikannya kepada Zahra. Seketika itu juga amarah yang menggelegak dalam dada Zahra mendingin dan hilang seketika. Sampai sekarangpun permen itu masih disimpan Zahra baik-baik. Zahra terlalu sayang memakannya.

Bagi Zahra, Zainal memang bukan manusia yang sempurna. Sebagai seorang suamipun Zahra maklum saja kalau masih banyak yang kurang dari Zainal. Toh Zahra juga bukanlah istri yang sempurna bukan? Terlepas dari semua itu, Zainal sudah berjanji akan berusaha menjadi lelaki terbaik untuk Zahra. Kata-kata itu sudah cukup membuat Zahra yakin sampai dengan saat ini bahwa suaminya, Zainal, adalah orang yang mencintainya apa adanya, menerima semua kekurangannya dan selalu berusaha membahagiakannya. Sekalipun seringkali bukan dengan kata-kata puitis nan romantis seperti I Love You. Tapi bukankah “Love” adalah kata kerja bukan kata sifat. Jadi seharusnya cinta memang bukan hanya dikatakan tetapi dilakukan, dikerjakan dan dibuktikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here