Geliat di Balik Sebuah Taman Kota (2)

5

Ketika akhir pekan datang wajah Taman Kotamobagu sedikit berubah. Ada rona ceria di antara dahan pohon, kursi beton, dan lantai semennya.

Taman Kotamobagu Menghadap ke Mesjid Baitul Makmur yang merupakan Salah Satu Landmark Kotamobagu

Para pemuda Kotamobagu yang tergerak membentuk bermacam-macam komunitas dengan pendalaman bidang yang berbeda, sering melakukan kegiatan saat liburan akhir minggu di tempat ini.

Lapak Baca Buku Gratis

Sebutlah pagelaran pembacaan puisi, live akustik, lapak baca buku gratis, diskusi terbuka, hunting foto dan acara lain yang bermanfaat.

Antusiasme Para Peserta Kegiatan

Bulan ramadan yang belum lama berselang, saya bersama teman-teman Komunitas Hijabers Kotamobagu, Komunitas Kata Tulisan, dan komunitas fotografi Insta Nusantara Sulut mengadakan kegiatan di lokasi ini. Selain buka puasa bersama, kami bertukar pendapat, membuka lapak baca gratis, dan tentu saja merekam jejak kami disini lewat perburuan foto menjelang senja.

Komunitas Hijabers Kotamobagu

Taman Kotamobagu juga menjadi saksi bisu terbentuknya Inde Do’u Institute. Sebuah kelompok kepemudaan yang konsen pada pembahasan isu-isu sosial, politik, dan kebudayaan masyarakat Bolaang Mongondow raya khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Namun, tidak selalu tempat ini menjadi pusat acara semi formal dari berbagai kelompok, organisasi, dan komunitas kepemudaan Kotamobagu. Masih segar dalam ingatan di lokasi ini pernah menjadi tempat piknik bagi sekumpulan sahabat. Perayaan pesta ulang tahun kecil-kecilan mungkin bisa menjadi tajuknya. Mereka makan, minum, bercanda, berkelakar disana. Seakan-akan fungsi dan arti sebuah taman sebagai tempat rekreasi keluarga dan masyarakat kembali ke asalnya.

Sayang sungguh sayang, tidak setiap pekan nuansa gembira tersebut terasa di Taman Kotamobagu. Lebih banyak akhir minggu Taman Kotamobagu berona kelabu. Pemuda pemudi menghabiskan waktu dengan berasyik masyuk dan bermesraan di sudut taman, bahkan di tempat kotor seperti kamar mandi yang tak terawat.

Ah, saya masih ingat beberapa bulan lalu sempat merasa marah membaca judul sebuah berita di koran lokal. ‘Sepasang Pemuda dan Pemudi Tertangkap Basah Berbuat Tidak Senonoh di Kamar Mandi Taman Kotamobagu’.

Belum lagi sewaktu saya mendengar pengakuan salah seorang kawan yang pernah duduk santai disana dan ‘ditawar’ seharga beberapa ratus ribu. Dia sangat malu. Saya yang mendengar pun tidak kalah malu. Anehnya orang yang menawar tidak ada malunya sama sekali.

Kalau saya bisa meminta, saya mau Taman Kotamobagu menjadi pusat acara bagi masyarakat Kotamobagu. Rasanya saya ingin memohon kepada pemerintah untuk sedikit memberikan perhatiannya.

Tapi, saya hanyalah seorang pemuda tanpa daya berlebih di tingkat birokrasi. Yang mampu saya lakukan sekarang adalah menuliskan curahan hati ini di blog dan mengajak kawan-kawan di Kotamobagu yang sepemahaman untuk memberdayakan Taman Kotamobagu dengan melaksanakan berbagai kegiatan bermanfaat.

Ah, saya lupa sesuatu… Tapi, nantilah kita akan membicarakannya di lain waktu.

#TantanganODOP4 #onedayonepost #odopbatch6 #nonfiksi

5 COMMENTS

  1. Dulu banyak taman di Jakarta juga bernasib sama dengan Taman Kotamobagu ini Mbak…Tapi berkat sentuhan pihak berwenang jadi rapi jali dan dikembalikan ke fungsi semula. Meski kini di tangan pemerintahan yang baru jadi kurang terawat lagi…Hiks!
    Tapi sepertinya hal seperti ini jadi PR bagi kita semua ya…Menjadikan ruang terbuka hijau a.k.a taman kota ke fungsi asalnya
    Yang salut itu dengan kota Surabaya saya…tamannya juwaraa!

  2. Wah iya bener nih mba seharusnya mah taman kota dijadikan tempat yg bermanfaat ya biar kumpul2nya jadi karya gitu. Mudah2an aja bisa jadi hal
    Kebaikan yg bisa mengajak kepada sesama untuk melakukan hal tsb juga. Ayok mba semangat!

  3. Duuuh kebayang deh marahnya temen mbak, kok “ditawar” . Emang sayur, ditawar? Itu pemerintahnya ke mana yes. Kalo ada media untuk pengaduan, sebaiknya diadukan saja mba, biar kotanya makin tertib.

  4. Hampir sejenis kayak Taman di Jakarta, Mbak. Dulu jadi ajang mesum, kemudian direnovasi dan diberlakukan berbagai peraturan akhirnya oke lagi. Ya, meskipun akhir2 ini melorot lagi, hiks. Semoga pihak terkait segera ambil tindakan. Sayang, kan, harusnya bisa jadi fasilitas untuk masyarakat banyak.

  5. Aku paling sebel liat penyalahgunaan taman kota ini oleh muda mudi. Dijadiin tempat mesum lah, maksiat lah, kita yg pengen bersantai jadi terganggu kan. *Malah curhat*

    Semoga pemerintah setempat memberikan perhatian yg serius ya mbak, sayang aja taman sebagus itu kalau ga dimaksimalkan untuk kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here