Inilah Cinta (1)

0

“Ma, sudah sore. Sebentar lagi magrib.” Dengan halus Annisa menegur ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa tetangga mereka.

“Sebentar, mama lagi asyik nih.” tanpa menghiraukan teguran Annisa, mamanya tetap saja asyik masyuk bergosip di terus rumah dengan teman-temannya. Sesekali mereka akan tertawa cekikikan sambil menunjuk-nunjuk rumah di sekitar mereka. Tak putus asa Annisa kembali memanggil mamanya. Setelah ketiga kalinya memanggil dan tak mendapat tanggapan akhirnya Annisa menyerah. Ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.

Dalam sujudnya ia berdoa agar sang mama tercinta bisa mendapatkan hidayah dan kembali rajin bersilaturahim dengan Sang Maha Kuasa. Annisa tak pernah menyerah untuk mengajak sang mama. Dalam doa, dalam teguran halusnya dan kadang-kadang dalam lontaran sindiran yang tak kadang membuat mamanya kesal. Tetapi sungguh usaha itu belumlah cukup membuat sang mama sadar. Sang mama malah memilih cuek dan asyik dengan kegiatannya. Dan lagi-lagi Annisa harus menelan kecewa.

Kadang Annisa  menyesal kenapa kehidupan mereka bisa semakmur sekarang. Dulu, walaupun hidup mereka pas-pasan tetapi penuh dengan rasa syukur yang berlimpah. Dan sang mama tercinta tak pernah sekalipun absen menengadahkan tangannya ke Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Tetapi kini, pemandangan mamanya menggelar sajadah di atas lantai marmer rumah mewah mereka adalah sesuatu yang sangat langka. Ayahnya bahkan sudah menyerah mengajak mamanya kembali ke rutinitas yang sudah ditinggalkannya. Adiknya hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Hanya Annisa yang masih tetap setia mengajak sang mama. Walau tak sekalipun mendapat gubrisan.

***

“Kenapa?” tanya Annisa tercekat.

“Aku sibuk. Takutnya tak bisa membagi waktu dengan baik dan kamu merasa terabaikan”. sekuat tenaga Annisa berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Kata-kata Radit, pacarnya, menghantamnya telak. Hampir saja kertas-kertas yang berisi tugas skirpsinya berhamburan di jalanan kampus. Untung saja gadis manis  itu bisa menguasai tangannya yang gemetaran.

“Kalau hanya karena itu aku masih bisa mengerti.” Annisa mencoba bernegosiasi. Walaupun sesungguhnya dalam hati ia mengakui beberapa bulan ini perhatian Radit sudah jauh berkurang untuknya. Sudah dua tahun mereka pacaran. Dan seharusnya dua bulan depan setelah diwisuda mereka akan bertunangan. Tetapi sepertinya itu hanya akan tinggal wacana semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here