Inilah Cinta

0

“Ma, sudah sore. Sebentar lagi magrib.” Dengan halus Annisa menegur ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa tetangga mereka.

“Sebentar, mama lagi asyik nih.” tanpa menghiraukan teguran Annisa, mamanya tetap saja asyik masyuk bergosip di terus rumah dengan teman-temannya. Sesekali mereka akan tertawa cekikikan sambil menunjuk-nunjuk rumah di sekitar mereka. Tak putus asa Annisa kembali memanggil mamanya. Setelah ketiga kalinya memanggil dan tak mendapat tanggapan akhirnya Annisa menyerah. Ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.

Dalam sujudnya ia berdoa agar sang mama tercinta bisa mendapatkan hidayah dan kembali rajin bersilaturahim dengan Sang Maha Kuasa. Annisa tak pernah menyerah untuk mengajak sang mama. Dalam doa, dalam teguran halusnya dan kadang-kadang dalam lontaran sindiran yang tak kadang membuat mamanya kesal. Tetapi sungguh usaha itu belumlah cukup membuat sang mama sadar. Sang mama malah memilih cuek dan asyik dengan kegiatannya. Dan lagi-lagi Annisa harus menelan kecewa.

Kadang Annisa  menyesal kenapa kehidupan mereka bisa semakmur sekarang. Dulu, walaupun hidup mereka pas-pasan tetapi penuh dengan rasa syukur yang berlimpah. Dan sang mama tercinta tak pernah sekalipun absen menengadahkan tangannya ke Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Tetapi kini, pemandangan mamanya menggelar sajadah di atas lantai marmer rumah mewah mereka adalah sesuatu yang sangat langka. Ayahnya bahkan sudah menyerah mengajak mamanya kembali ke rutinitas yang sudah ditinggalkannya. Adiknya hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Hanya Annisa yang masih tetap setia mengajak sang mama. Walau tak sekalipun mendapat gubrisan.

***

“Kenapa?” tanya Annisa tercekat.

“Aku sibuk. Takutnya tak bisa membagi waktu dengan baik dan kamu merasa terabaikan”. sekuat tenaga Annisa berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Kata-kata Radit, pacarnya, menghantamnya telak. Hampir saja kertas-kertas yang berisi tugas skirpsinya berhamburan di jalanan kampus. Untung saja gadis manis  itu bisa menguasai tangannya yang gemetaran.

“Kalau hanya karena itu aku masih bisa mengerti.” Annisa mencoba bernegosiasi. Walaupun sesungguhnya dalam hati ia mengakui beberapa bulan ini perhatian Radit sudah jauh berkurang untuknya. Sudah dua tahun mereka pacaran. Dan seharusnya dua bulan depan setelah diwisuda mereka akan bertunangan. Tetapi sepertinya itu hanya akan tinggal wacana semata.

“Tidak adil untukmu.” Radit kembali berkeras.

“Lebih tidak adil lagi untukku jika seperti ini.” Annisa menghela nafas dalam-dalam. “Apakah karena ada orang ketiga?”. Akhirnya keluar juga kata-kata yang sejak tadi ditahan Annisa di lidahnya. Radit menggeleng. Salah tingkah sambil memainkan tas punggungnya. Annisa memejamkan mata. Ia hapal betul ketika Radit berbohong. Kali ini dibiarkannya air mata jatuh perlahan di pipinya yang mulus.

“Baik kalau begitu. Kita putus.” Berakhir sudah pikir Annisa. Tak berlama-lama ia berdiri di hadapan lelaki yang telah sukses menghancurkan hatinya. Ia berlari. Meninggalkan Radit dengan tatapan bersalahnya. Ia berlari dan membiarkan air mata memenuhi wajahnya.

***

“Saya kecewa dengan kamu Annisa. Padahal kamu adalah salah satu mahasiswa saya yang paling cemerlang. Bagaimana bisa kamu mengajukan sebuah skripsi dengan data yang kacau seperti ini? Ditambah lagi teori yang mendukungnya sama sekali tidak relevan. Kalau seperti ini bisa-bisa kamu tidak bisa maju ke meja sidang.”

“Maaf, pak. Saya benar-benar sulit berkonsentrasi akhir-akhir ini. Saya sedang menghadapi masalah keluarga.”

“Memangnya orang tua kamu meninggal?”

“Tidak, pak.”

“Atau ada keluarga lain yang meninggal?”

“Tidak ada, pak”.

“Kalau begitu tidak perlu terlalu terpengaruh dengan masalah keluarga yang mungkin hanya sepele. Sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir seharusnya kamu punya prioritas. Kalau hanya masalah keluarga seperti pernikahan atau hal lain di luar yang saya tanyakan tadi, berarti itu bukan masalah. Apalagi untuk mahasiswa yang cerdas seperti kamu.” Sambil memandang Annisa tajam sang dosen melanjutkan. “Saya kasih kamu kesempatan dua minggu untuk memperbaiki semua ini. Kalau kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, maka saya tidak bisa membantu kamu lagi.”

Dengan langkah gontai Annisa meninggalkan ruangan dosen. Sudah beberapa hari ini ia tidak fokus mengerjakan skripsi. Awalnya ia berusaha tegar tetapi gosip yang beredar di kampus seputar perselingkuhan Radit benar-benar membuatnya down. Ia tidak tahan dengan tatapan penuh tanda tanya serta bisik-bisik dibelakangnya.

Bayangan Radit yang asyik bergandengan tangan dengan wanita lain menganggunya. Air matanya kembali mengalir.

***

Di tempat lain. Di sebuah mall. Mama Annisa sedang sibuk jalan-jalan dengan teman-temannya. Berbelanja. Makan. Sambil tertawa dan bergosip. Saat sedang asyik-asyiknya makan siang, tanpa sengaja ia melihat Radit berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang bukan putrinya. Keingintahuannya muncul. Ingin memastikan kalau ia sama sekali tidak salah mengenali orang. Setelah permisi sejenak ia langsung mengekor di belakang Radit. Dan ia terkejut bukan kepalang ketika melihat dengan mesra Radit merangkul wanita itu.

***

“Annisa, buka pintunya. Mama mau bicara.” Sesampainya di rumah wanita separuh baya itu langsung mengedor pintu kamar putrinya. Tak ada sahutan. Tapi ia yakin Annisa ada di dalam.

“Annisa, ayo buka pintunya. Mama mau bicara tentang Radit. Tadi mama lihat dia jalan dengan perempuan lain. Kenapa bisa begitu?”

“Jangan ganggu Annisa.” Teriak suara dari dalam.

“Nak, tolong buka pintunya.” Kali ini wanita berkulit putih itu sudah mulai panik. “Kenapa kamu mengunci diri di kamar? Ayo keluar! Kalau tidak mama dobrak sekarang!”

Akhirnya terdengar bunyi kunci diputar dan pintu dibuka. Dihadapannya berdiri putri sulungnya tapi ia hampir tidak bisa mengenalinya. Annisa yang dikenalnya adalah seorang gadis yang energik dan ceria. Tetapi yang sekarang berdiri di hadapannya seperti bukan Annisa. Penampilan gadis itu benar-benar kacau. Kamarnya yang biasanya rapi sekarang jadi berantakan seperti kapal pecah. Kertas-kertas dan diktat berserakan dimana-mana. Merasa ada yang tidak beres naluri keibuannya langsung muncul.

Dengan penuh kelembutan dipeluknya Annisa. Dengan nada suara sehalus mungkin ia bertanya apa yang sedang terjadi dengan putri tercintanya. Kaget dan rindu diperlakukan seperti itu, Annisa membalas memeluknya dengan erat. Bagaikan tanggul jebol, air mata Annisa tumpah di bahunya. Disela isak tangisnya Annisa menceritakan segala hal yang menyebabkan dirinya bisa sekacau ini. Mulai dari putus cintanya dengan Radit, isu perselingkuhan Radit sampai tugas skripsinya yang kacau balau.

Dalam diam mama Annisa mendengarkan cerita anaknya. Dalam diam air matanya berlinang, menyadari kealpaannya selama ini sebagai seorang ibu.

***

Saat malam tiba, wanita yang selama ini sudah lupa bagaimana rasanya bertegur sapa dengan Tuhannya akhirnya melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah dilakukannya lagi. Dengan penuh kerelaan serta keikhlasan kakinya melangkah ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Kali ini tidak ada paksaan dari siapapun. Bahkan tidak dari Annisa. Keinginan itu muncul begitu saja dari dalam dirinya. Seakan ada suara yang menyuruhnya. Mungkin saja itu hati nuraninya yang selama ini abai ia dengarkan. Sekali ini keegoisan dan napsu duniawinya kalah telak.

Setelah berwudhu wanita itu menuju ke lemari pakaian dan menarik sebuah benda yang sedikit berdebu. Mukenah putih yang terletak di bawah tumpukan baju paling bawah. Dulu mukenah itu adalah baju keduanya. Sudah sangat lama tidak digubrisnya. Mungkin bertahun-tahun. Tapi, sekarang ia berjanji akan mengenakannya lagi dan tak akan pernah melepaskannya.

Malam itu ia berdoa sangat lama. Bersujud memohon ampun kepada Tuhannya. Berdoa untuk keluarganya terutama putrinya yang selama ini tidak pernah lelah mengajaknya kembali. Kali ini gilarannya berdoa untuk sang putri tercinta untuk dapat kembali bersujud bersamanya.

Di sujut ranjang sang suami menatapnya dengan pandangan penuh arti. Pemandangan ini sudah lama sekali ingin dilihatnya kembali. Ada kerinduan serta haru di mata tuanya. Dan juga cinta yang selama ini sempat tertidur lelap.

***

Sudah sekitar tiga minggu berlalu. Annisa sudah bangkit dari keterpurukannya. Tidak ada lagi sedu sedan apalagi penyesalan dan nestapa ditinggal kekasih. Semua ini berkat kehadiran mamanya serta doanya yang tak pernah putus siang dan malam.

Annisa berhasil lulus ujian proposal dan skripsi dengan nilai gemilang. Tidak main-main ia mendapatkan nilai yang paling tinggi se-kampus, summa cum laude. Mengalahkan Radit yang seangkatan dengannya.

Setelah toga disematkan dikepalanya, orang yang terlebih dahulu dipeluknya adalah sang mama. Dalam pelukan mereka berdua bersuka cita. Ketika akhirnya dia bertemu muka dengan Radit ia tidak lagi menundukkan pandangannya. Ia tahu ada doa ibu yang selalu menyertainya.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here