Inilah Cinta (2)

0

“Tidak adil untukmu.” Radit kembali berkeras.

“Lebih tidak adil lagi untukku jika seperti ini.” Annisa menghela nafas dalam-dalam. “Apakah karena ada orang ketiga?”. Akhirnya keluar juga kata-kata yang sejak tadi ditahan Annisa di lidahnya. Radit menggeleng. Salah tingkah sambil memainkan tas punggungnya. Annisa memejamkan mata. Ia hapal betul ketika Radit berbohong. Kali ini dibiarkannya air mata jatuh perlahan di pipinya yang mulus.

“Baik kalau begitu. Kita putus.” Berakhir sudah pikir Annisa. Tak berlama-lama ia berdiri di hadapan lelaki yang telah sukses menghancurkan hatinya. Ia berlari. Meninggalkan Radit dengan tatapan bersalahnya. Ia berlari dan membiarkan air mata memenuhi wajahnya.

***

“Saya kecewa dengan kamu Annisa. Padahal kamu adalah salah satu mahasiswa saya yang paling cemerlang. Bagaimana bisa kamu mengajukan sebuah skripsi dengan data yang kacau seperti ini? Ditambah lagi teori yang mendukungnya sama sekali tidak relevan. Kalau seperti ini bisa-bisa kamu tidak bisa maju ke meja sidang.”

“Maaf, pak. Saya benar-benar sulit berkonsentrasi akhir-akhir ini. Saya sedang menghadapi masalah keluarga.”

“Memangnya orang tua kamu meninggal?”

“Tidak, pak.”

“Atau ada keluarga lain yang meninggal?”

“Tidak ada, pak”.

“Kalau begitu tidak perlu terlalu terpengaruh dengan masalah keluarga yang mungkin hanya sepele. Sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir seharusnya kamu punya prioritas. Kalau hanya masalah keluarga seperti pernikahan atau hal lain di luar yang saya tanyakan tadi, berarti itu bukan masalah. Apalagi untuk mahasiswa yang cerdas seperti kamu.” Sambil memandang Annisa tajam sang dosen melanjutkan. “Saya kasih kamu kesempatan dua minggu untuk memperbaiki semua ini. Kalau kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, maka saya tidak bisa membantu kamu lagi.”

Dengan langkah gontai Annisa meninggalkan ruangan dosen. Sudah beberapa hari ini ia tidak fokus mengerjakan skripsi. Awalnya ia berusaha tegar tetapi gosip yang beredar di kampus seputar perselingkuhan Radit benar-benar membuatnya down. Ia tidak tahan dengan tatapan penuh tanda tanya serta bisik-bisik dibelakangnya.

Bayangan Radit yang asyik bergandengan tangan dengan wanita lain menganggunya. Air matanya kembali mengalir.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here