Inilah Cinta (3)

0

Di tempat lain. Di sebuah mall. Mama Annisa sedang sibuk jalan-jalan dengan teman-temannya. Berbelanja. Makan. Sambil tertawa dan bergosip. Saat sedang asyik-asyiknya makan siang, tanpa sengaja ia melihat Radit berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang bukan putrinya. Keingintahuannya muncul. Ingin memastikan kalau ia sama sekali tidak salah mengenali orang. Setelah permisi sejenak ia langsung mengekor di belakang Radit. Dan ia terkejut bukan kepalang ketika melihat dengan mesra Radit merangkul wanita itu.

***

“Annisa, buka pintunya. Mama mau bicara.” Sesampainya di rumah wanita separuh baya itu langsung mengedor pintu kamar putrinya. Tak ada sahutan. Tapi ia yakin Annisa ada di dalam.

“Annisa, ayo buka pintunya. Mama mau bicara tentang Radit. Tadi mama lihat dia jalan dengan perempuan lain. Kenapa bisa begitu?”

“Jangan ganggu Annisa.” Teriak suara dari dalam.

“Nak, tolong buka pintunya.” Kali ini wanita berkulit putih itu sudah mulai panik. “Kenapa kamu mengunci diri di kamar? Ayo keluar! Kalau tidak mama dobrak sekarang!”

Akhirnya terdengar bunyi kunci diputar dan pintu dibuka. Dihadapannya berdiri putri sulungnya tapi ia hampir tidak bisa mengenalinya. Annisa yang dikenalnya adalah seorang gadis yang energik dan ceria. Tetapi yang sekarang berdiri di hadapannya seperti bukan Annisa. Penampilan gadis itu benar-benar kacau. Kamarnya yang biasanya rapi sekarang jadi berantakan seperti kapal pecah. Kertas-kertas dan diktat berserakan dimana-mana. Merasa ada yang tidak beres naluri keibuannya langsung muncul.

Dengan penuh kelembutan dipeluknya Annisa. Dengan nada suara sehalus mungkin ia bertanya apa yang sedang terjadi dengan putri tercintanya. Kaget dan rindu diperlakukan seperti itu, Annisa membalas memeluknya dengan erat. Bagaikan tanggul jebol, air mata Annisa tumpah di bahunya. Disela isak tangisnya Annisa menceritakan segala hal yang menyebabkan dirinya bisa sekacau ini. Mulai dari putus cintanya dengan Radit, isu perselingkuhan Radit sampai tugas skripsinya yang kacau balau.

Dalam diam mama Annisa mendengarkan cerita anaknya. Dalam diam air matanya berlinang, menyadari kealpaannya selama ini sebagai seorang ibu.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here