Kemunculan kembali PIN Polio (2)

0

Semenjak PIN Polio yang dilaksanakan tiga tahun berturut-turut pada tahun 1995, 1996, dan 1997, virus polio asli Indonesia (indigenous) sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 1996. Namun, pada tanggal 13 Maret 2005 ditemukan kasus polio importansi pertama di Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kasus polio tersebut berkembang menjadi KLB yang menyerang 305 orang dalam kurun waktu 2005 sampai awal 2006. KLB ini tersebar di 47 kabupaten / kota di 10 provinsi. Selain itu juga, ditemukan 46 kasus Vaccine Derived Polio Virus (VDPV) yaitu kasus Polio yang disebabkan oleh virus dari vaksin. Yang terjadi apabila banyak anak yang tidak diimunisasi. Dimana, 45 kasus di antaranya terjadi di semua kabupaten di Pulau Madura dan 1 kasus terjadi di Probolinggo, Jawa Timur. Setelah diadakan Outbreak Response Immunization (ORI), dua kali mop-up (pembersihan), lima kali PIN, dan dua kali Sub-PIN, KLB dapa ditanggulangi sepenuhnya.

Kasus Virus Polio Liar (VPL) terakhir yang mengalami kelumpuhan ditemukan pada tanggal 20 Februari 2006 di Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam. Sejak saat itu hingga sekarang tidak pernah ditemukan lagi kasus Polio.

Petunjuk Teknis PIN ini juga menyebutkan tentang pertemuan desk riview pada tanggal 20 – 23 Oktober 2014 yang dilaksanakan oleh Kementrian Kesehatan bersama WHO, UNICEF, dan melibatkan para pakar dan akademisi serta organisasi profesi. Maka, direkomendasikan untuk melakukan PIN Polio pada anak usia 0 – 59 bulan untuk memberikan perlindungan yang optimal bagi seluruh anak terhadap virus polio.

 

Setelah membaca beberapa data dan fakta di atas, maka mungkin akan timbul pertanyaan baru. Mengapa penyakit polio harus dicegah sebisa mungkin? Bisa terlihat dari informasi di atas, bahwa Indonesia dan dunia berusaha maksimal untuk mencegah terjadinya penyakit polio.

Tahukah bahwa sesungguhnya penyakit polio tidak ada obatnya? Inilah yang membuat berbagai negara yang terindikasi punya resiko tinggi mengalami polio serta organisasi kesehatan dunia berwaspada. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah pencegahan dengan cara meningkatkan kekebalan sistem imun tubuh. Salah satunya menggunakan  imunisasi sebagai benteng dari penyakit ini.

 

Selan itu, kemunculan kembali PIN Polio ini ternyata diikuti oleh kabar yang kurang sedap. Ini berkenaan dengan komposisi vaksin polio yang sempat menggegerkan dunia maya. Dijelaskan di beberapa situs dan artikel bahwa pemerintah akan menggunakan vaksin Polio yang salah satu kandungan di dalamnya mengandung unsur-unsur dari hewan babi. Ini cukup membuat resah masyarakat, terutama bagi umat muslim yang notabenenya diharamkan untuk mengkonsumsi atau menggunakan segala macam makanan dan produk yang mengandung babi.

Lewat situs resminya, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, menginformasikan bahwa, vaksin Polio yang digunakan adalah vaksin tetes. Sedangkan, vaksin yang mengandung unsur hewan di dalamnya adalah vaksin Polio dalam bentuk suntikan.

 

(Sumber : www.depkes.go.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here