Misteri Kutang Merah

0

Hallo guys, sebut saja namaku Bunga (kayak inisial di koran-koran gitu yah hehe). Gak dink, namaku Titi. Aku mantan anak kos loh, yah mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu *hayoo tebak umur aku berapa? Hehe. Ini adalah salah satu cerita lucu yang aku alami selama persemedianku di kos tercinta, Kuningan. Sebuah kos berlantai dua dengan empat belas kamar bercat kuning keemasan ditaburi coklat karamel… loohh koq malah ngawur ke makanan.  Intinya, kosku itu berwarna kuning cerah sehingga mendapat julukan “Kuningan”.

Tidak jauh dari kosanku juga ada sebuah kos yang diberi nama terilham dari nama kos kami. Karena catnya yang berwarna putih akhirnya diberi nama “Keputihan” *ada-ada aja yang ngasih nama, gak sekalian aja menstruasi kale yah hehe. Dan kemudian muncullah nama-nama kos lain yang lebih variatif dan berwarna. Mulai dari “Orange” sampai “Kehijauan” *sebentar lagi bakalan jadi pelang-pelangi alangkah indahmu.

Singkat kata singkat cerita. Kisah ini dimulai di suatu siang yang terik, saat matahari lagi lucu-lucunya. Waktu itu ceritanya aku baru saja selesai mencuci baju, mumpung lagi panas kerontang nih. Dan jemuran masih ada lowongan tempat. Semangat empat lima aku langsung menuju jemuran, niatnya sih pengen dapat tempat paling depan, sayang ternyata sudah ada yang menempati. Dengan terpaksa baju-bajuku yang bermerk terkenal *ngasal, harus menempati posisi ketiga dan keempat. Selesai menjemur pakaian bulukku, khusyuk kupanjatkan doa ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa, agar Dia Yang Maha Baik mau mengeringkan bajuku.

Sore harinya selesai kuliah aku bergegas mengangkat jemuran yang Alhamdulillah sudah kering sepenuhnya. Tak lupa menghitung pakaianku utuh apa enggak, takutnya dimaling. Enggak banget kan kalo pakaianku yang unyu-unyu dibuat untuk hal-hal yang aneh. Ihhh jijay tujuh turunan deh.

Sambil menenteng bawaanku yang ternyata buanyak banget aku langsung menuju kamar kos dan membuka kuncinya. Melemparkan begitu saja semua pakaian-pakaianku di atas kasur dan bergegas menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian hasil perburuanku di pasar loak terdekat *aahh ketahuan, aku membersihkan debu yang sering merajai lantai terasku yang kebetulan bersebelahan dengan dapur. Ini adalah salah satu hal yang kusesalkan kenapa bisa kebagian kamar yang letaknya paling ujung. Tiap hari aku harus rajin menyapu. Aku maklum juga sih. Sebagai penghuni kos baru yang belum lama memasuki jenjang perkuliahan (baru ajah masuk semester dua) wajarlah kalau hanya mendapat kamar sisa. Kawan seangkatanku Vivin, lain lagi ceritanya. Kamarnya tepat berada di samping tangga ke lantai dua dan kalau siang hari, luar biasa banget teriknya matahari yang menyinari kamarnya.

Kembali ke laptop. Lagi asik-asiknya nyapu sayup-sayup aku mendengar bisik-bisik tetangga dari kejauhan. Tak lama aku mendengar sebuah suara memanggil namaku.

“Tikseee..”.

“Yaaaaaa”.

“Kesini sebentar deh”.

“Ada apa Ka?” Tanyaku setelah berhadapan dengan Ka Grace dan Ka Nelly, seniorku di kampus juga seniorku di kos. Mereka berdua sedang memandang tajam ke arah tali jemuran yang kebetulan berhadapan langsung dengan kamar mereka.

“Kalo nggak salah tadi kamu nyuci baju kan?” Ka Grace menatapku penasaran. Aku mengangguk tanpa dosa. “Kalo begitu barang itu punya kamu?” Jarinya menunjuk tali jemuran. Perlahan mataku kuarahkan ke tempat yang ditunjuknya *pake gerakan slow motion biar dramatis. Oh No!! Mataku langsung melotot, kugelengkan kepala kuat-kuat.

Sebuah kutang terparkir manis di tali jemuran paling depan. Hanya kutang itu saja yang ada disitu membuatnya sangat kontras dengan keadaan sekitar yang kosong melopong. Suasana sore yang cerah semakin menegaskan warnanya yang merah menyala *silau men!!. Sejenak kami bertiga bengong menatap barang ajaib itu.

“Terus itu punya siapa?” Kali ini Ka Nelly angkat bicara. Gadis manis berkulit hitam manis itu menatapku seakan meminta penjelasan. Aku mengangkat bahu.

“Enggak enak banget diliatin”. Ka Grace mendengus. Wajarlah ketua kos lantai satu itu kesal. Dari awal kami memutuskan untuk tinggal di Kuningan, kami sudah menyepakati bahwa tidak akan meninggalkan barang-barang penting di sembarang tempat.

Sebagai kos yang hanya menerima makhluk yang bernama perempuan dan gadis-gadis cantik *kedip-kedip, tentu saja jemuran kami dipenuhi barang-barang aneh seperti segitiga bermuda dan kacamata Batman *tebak tuh apa artinya 😛 . Belum lagi warnanya yang mejikuhibiniu dengan motif bergaris, polkadot sampai belang-belang mirip bajunya Trio Macan plus tambahan aksesoris seperti renda dan pita. Bisa membuat mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kos kami terbelalak jijay jadinya #lebay. Maklum aja, itu jemuran letaknya bukan di belakang kos tetapi di halaman depan tepat di sebelah pagar kos yang berada di pinggir jalan. Jadinya orang-orang yang ada keperluan sama anak-anak kos atau para pacar yang mau ngapel juga bisa dengan leluasa melihat pemandangan yang cukup menyiksa mata itu. Tapi tentu saja ada batas waktunya loh. Enggak selamanya barang-barang ajaib itu bakalan menghuni jemuran. Apalah jadinya kalo itu kutang tak bertuan, alamat bisa jadi bahan tontonan tuh.

“Coba saja tanya sama anak-anak lain, kali aja itu punya mereka”. Saranku. Ka Grace dan Ka Nelly langsung mengiyakan.

“Itu bukan punya kamu, Vin?” Tanyaku pada Vivin yang baru saja melangkahkan kaki memasuki gerbang kos.

“Bukan. Aku enggak nyuci seharian ini”.

“Bukan punyaku.” Kali ini Ka Feby di kamar nomor dua yang kami tanyai. “Seharian ini aku sibuk kuliah”. Kata gadis yang kuliah di fakultas pertanian itu.

Satu per satu kami berusaha menanyai anak-anak kos, baik yang di lantai satu maupun yang di lantai dua. Tak ada satupun yang mengaku sebagai pemilik kutang merah itu.

“Mungkin itu punya Ka Ari. Dia kan lagi keluar kota”. Kata Vivin yang akhirnya ikut bergabung bersama kami, mencoba menyibak tabir kelam pemilik kutang merah.

“Enggak, bukan punya dia. Aku sudah tanya”. Ka Nelly menggeleng.

Kami semua diam sambil berusaha menebak-nebak siapa gerangan pemilik kutang merah itu.

“Aku punya ide.” Akhirnya kesunyian mirip kuburan di antara kami terpecahkan oleh pekikan riang Ka Nelly. Matanya bersinar penuh ide membuat kami bertanya penasaran. “Tunggu aja besok”. Ka Nelly mengedipkan mata penuh rahasia. Bahkan Ka Grace yang notabenenya teman sekamar sekaligus soulmatenya tidak bisa menebak apa yang tiba-tiba muncul di benak Ka Nelly.

***

“Gimana? Sudah ada yang mengaku?” Esok harinya, Vivin bertanya penasaran padaku. Aku menggeleng.

“Kita tunggu aja ide Ka Nelly, siapa tau aja idenya berhasil menemukan siapa pemilik kutang merah itu”.

Sepanjang perjalanan pulang dari kampus aku dan Vivin sibuk mengobrol membahas kutang merah itu. Kira-kira sang pemilik kutang tau gak yah, kalo kutang bertuahnya sudah membuat Kos Kuningan agak gempar karenanya. Belum lagi pengunjung kos yang terbelalak heran tiap kali melewati tali jemuran.

Siang itu terik seperti kemarin. Bergegas-gegas aku dan Vivin memasuki gerbang kos. Langkah kami terhenti demi melihat pemandangan aneh di depan mata. Kutang merah itu masih bertengger gagah perkasa di tali jemuran. Tapi bukan itu yang membuat mulut kami melongo. Sebuah kertas berukuran sedang bertinta spidol hitam dengan huruf balok yang isinya “PUNYA SIAPAKAH AKU??” sudah nangkring dengan manis di atas kutang merah itu, dijepit dengan jepitan baju berwarna senada dengan warna kutang. Seketika itu juga aku dan Vivin tertawa terbahak-bahak sampai berurai air mata. Siapakah yang tega berbuat sejail itu?

Suara tawa kami yang cetar membahana badai cukup menarik perhatian. Ka Nelly, Ka Grace dan Ka Feby langsung keluar kamar. Ternyata hanya ada aku dan Vivin yang sedang tertawa sambil menunjuk tali jemuran. Tak ayal mereka bertiga ikut tertawa bersama kami.

“Gimana ideku? Briliankan?” Tanya Ka Nelly setelah tawa kami mereda.

“Jadi itu idemu Ka?” Kami semua memandangnya tak percaya. Hanya Ka Grace yang tersenyum penuh arti mendukung sahabatnya. Ka Grace juga punya andil dalam hal ini. “Kita liat saja nanti. Kalo sudah begini pasti pemilik yang sebenarnya akan segera mengambilnya. Malu kan kalo jadi tontonan terus menerus.”

“Kalian tak usah khawatir, biar aku dan Nelly yang mengawasi perkembangan status kutang itu. Kita akan segera tau siapa pemilik kutang itu.”

***

Sudah dua hari perkembangan kasus kutang belum menunjukkan hasil yang signifikan. Pemiliknya masih misteri. Kutang dan tulisan itu masih setia menghuni tali jemuran. Pertahanan Ka Nelly dan Ka Grace sudah mulai runtuh. Mereka mulai kelelahan melototin tu kutang siang dan malam. Ya iyalah bo’ memangnya mereka enggak punya kerjaan lain apa selain mencari tau siapa pemilik kutang merah.

Awalnya kami sering jengah kalo ada yang menanyakan siapa pemilik kutang itu. Entah teman atau pacar. Sekarang kami sudah tidak peduli lagi, mau punya wewe gombel atau kuntilanak keq bodoh amat.

Anak-anak kos juga sudah mengeluh cucian mereka mulai menumpuk. Sudah dua hari ini enggak ada yang berani menjemur baju. Takut dituduh sebagai pemilik kutang merah.

***

Hari ketiga, kami beramai-ramai memadati area jemuran. Ada apa gerangan? Mau ngantri tiket yah? Enggak dink. Selain karena pengen berebutan tempat jemuran. Ada pemandangan tak biasa di tali jemuran.

Ternyata kutang merah telah lenyap saudara-saudara sekalian. Hilang! Gone! Yang tersisa hanyalah jepitan baju dan kertas yang sudah lecek bekas diremas-remas. Ternyata kutang itu punya pemilik. Aku sendiri sudah berkeyakinan kutang itu milik makhluk halus. Tapi tak mungkin makhlus halus bisa meremas-remas kertas dan mencampakkannya di tanah kan?

Saat itu juga kami mengadakan rapat dadakan bertempat di teras kamar Ka Nelly dan Ka Grace. Semua sibuk berspekulasi siapa gerangan yang telah memindahkan sang kutang dari singgasananya. Tidak ada yang bisa menebak. Apalagi malam sebelumnya terjadi hujan badai sehingga semua penghuni kos nyenyak dalam tidur termasuk Ka Nelly dan Ka Grace yang bertugas ronda menyelidiki pemilik kutang ajaib itu. Akhirnya rapat saat itu ditutup dengan tanda tanya segede gunung dalam benak kami masing-masing. Hasilnya nihil! Nol besar! Tidak ada satupun yang tau siapa yang mengambil kutang itu sampai saat ini.

#TantanganODOP5 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi #nonfiksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here