NENEK GAYUNG

2

Panggil saja aku Maya. Aku adalah seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat. Sekarang aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan di sebuah Puskesmas di suatu kota di wilayah timur Indonesia. Ini adalah kisah tentang betapa jengkel, kesal dan marahnya diriku akan kelakukan atasanku. Seorang wanita paruh baya berumur lima puluh enam tahun. Dengan pengalaman kerja yang katanya bejibun tetapi sayang itu sama sekali tidak membuatnya menjadi pemimpin yang arif nan bijaksana. Justru pengalaman kerja berpuluh tahun menyulapnya menjadi boss super angkuh dan arogan. Kerjanya hanya menyuruh atau bercerita panjang lebar tentang kisah kepahlawanannya sewaktu menjadi anak buah. Kisah yang sering membuatku dan rekan-rekan kerja mendengus jengkel. Sungguh lebay kata ABG zaman sekarang. Saking kesalnya, aku sering menyebutnya dengan panggilan “Nenek Gayung”.

Kisah kami dimulai pada bulan Januari 2011. Saat itu aku baru beberapa bulan bekerja di puskesmas setelah permintaan pemindahanku dari tempat dinasku yang pertama, Badan Narkotika, telah dikabulkan. Aku tidak bisa melupakan saat-saat dimana dengan lihainya dia membujukku untuk menjadi bendahara PAD (Pendapatan Asli Daerah). Dengan polosnya aku mengiyakan dan setelah waktu berlalu aku masih saja menyesali keputusanku.

Awalnya kupikir tidak sulit mengerjakan tugas itu, apalagi aku memang kuliah di jurusan yang kurang lebih mempelajari tentang hal-hal yang menyangkut manajemen puskesmas. Tetapi “tugas” yang dimaksud disini bukan hanya berurusan dengan pendapatan daerah karena dengan liciknya dia membuatku menerima satu tugas lagi yaitu bendahara Bantuan Operasional Kesehatan. Dari situlah mimpi burukku bermula.

Satu hal yang kucatat baik-baik selama masa jabatanku itu adalah aku jadi kehilangan momen-momen terbaik bersama dengan orang-orang yang seharusnya bisa menjadi kawanku. Berkat Si Nenek Gayung itu semua orang menjauhiku. Mereka berpikir kalau aku sudah ikut teracuni kelakuannya yang buruk.

Lama kelamaan aku mulai menyadari mengapa kawan-kawanku menjauhiku. Sebagai seorang atasan, tabiat Si Nenek Gayung sungguh buruk. Kadang-kadang di beberapa kesempatan aku bisa mendengarnya memuji seseorang di depan muka orang tersebut, beberapa saat kemudian saat orang itu sudah berlalu, dengan raut muka tanpa dosa dia akan menjatuhkan orang tersebut bahkan tak sungkan-sungkan membeberkan aib-aibnya. Sungguh munafik, Astagfirullah. Setahun kemudian aku baru tahu aku juga tidak luput dari penghinaannya.

***

Mataku membelalak sangat lebar demi melihat sepenggal kalimat yang terkirim lewat Service Messenger System. Sumpah rasanya aku ingin berteriak sangat nyaring saat itu. Mungkin orang yang mengirimkan pesan itu tidak bisa berpikir. Dan memang benar berdasarkan pengalaman orang itu sama sekali tidak tahu acaranya berpikir cerdas sebagai seorang atasan. Parahnya lagi orang yang tidak bisa berpikir cerdas itu adalah atasanku.

Seperti kebiasaannya yang hobby menyuruh-nyuruh, hari inipun dengan tanpa berdosanya dia menyuruhku membuat power point laporan persentase indikator sebuah proyek. Sebenarnya ini adalah hal yang sepele buatku karena setahun sebelumnya aku menjabat sebagai bendahara yang bertugas untuk membuat laporan itu. Yang membuat aku kesal adalah dia menyuruhku mengisi data-datanya. Apa dia gila? Bisa-bisanya dia menyuruhku memalsukan data. Aku sampai berteriak nyaring waktu menuliskan kata-kata penolakan tegas lewat SMS sekalipun aku sudah tahu dia tidak akan bisa mendengarnya. Kami sampai harus terlibat adu mulut di SMS. Dia yang ngotot aku harus melakukan itu dengan alasan bendahara yang harusnya mengerjakan laporan tidak bisa membuat power point (setidaknya dia bisa membuat datanya, kan!) dan aku yang bersikeras tidak mau melakukan hal yang sebenarnya bukanlah tanggung jawabku.

Capek dan letih setelah melaksanakan kegiatan tauziyah di komunitas hijabers dilanjutkan dengan rapat pengurus dan pertemuan dengan anggota baru sungguh menguras tenaga dan emosiku hari itu. Awalnya aku berpikir begitu, ternyata aku masih punya cadangan tenaga untuk bersitegang dengan tua bangka itu. Setelah tiga puluh menit akhirnya aku mengalah, dengan dia yang mengikhlaskanku hanya membuatkan power pointnya saja.

Mataku nanar menatap yang jam berdetak pelan di dinding kamarku. Pukul sebelas malam. Antara mengantuk dan rasa letih yang mulai menguasai, perlahan-lahan aku mulai mengetik. Berharap besok hari aku tidak akan mendengar ocehan macam-macam akan hasilnya nanti.

***

Pukul tujuh tepat aku terbangun dari tidur yang tanpa mimpi. Kepalaku serasa pening akibat kurang tidur. Masih dengan tubuh yang cukup letih aku terseok-seok ke kamar mandi. Air dingin yang mengalir dari keran membuat mataku terbuka lebar. Selesai berpakaian aku langsung mengambil laptopku dari atas tempat tidur. Tidak lupa kunci rumah dan juga kunci motor. Hari ini ayahku tidak bisa mengantar sampai Puskesmas. Aku harus pergi sendiri dengan motor. Kemudian dari Puskesmas aku akan mengajar di sekolah. Mengingat itu saja sudah membuat rasa letih kembali lagi ke tubuhku.

Dan ternyata rasa letihku tidak ada apa-apanya dengan rasa marah yang membara dalam hatiku. Kalau tidak mengingat banyaknya pegawai juga pasien yang ada di puskesmas saat itu, mungkin aku sudah meneriakinya dengan lantang. Coba tebak siapa yang kuteriaki?

Benar sekali! Nenek gayung yang menyebalkan itu. Iklan berteriak WOW kemudian garuk-garuk dinding tidak akan bisa mewakili rasa yang saat itu kurasakan.

Tuhan, kuatkan aku!!!

 

#TantanganODOP3 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi

2 COMMENTS

Leave a Reply to fathin Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here