‘Nyante’ di Ternate

0

 

Idul fitri tahun 2016 ada yang berbeda dari cara saya dan suami melewatinya. Biasanya kami akan menikmati hari lebaran dengan mengadakan open house. Mengundang keluarga, semua tetangga, teman kantor, kolega dan kawan-kawan untuk menyantap hidangan yang kami sediakan. Tetapi, tahun ini tidaklah demikian.

Dikarenakan sedikit ujian yang menyapa kami sebelum hari kemenangan, mengharuskan Mama dan Papa menginap sebulan lebih di Manado. Apalagi Ibu dan Ayah Mertua memilih untuk berlebaran di luar daerah. Jadilah saya dan suami tidak punya tempat untuk singgah setelah Salat Ied.

Akhirnya setelah menyetujui usul Mama, kami sepakat untuk ke Ternate. Lagipula suami sudah kangen dengan Nenek Dotu (sebutan untuk ibu dari ayah mertua). Terlebih saya yang sudah sangat ingin melihat tempat itu lagi, setelah tahun 2013 silam menjejakkan kaki pertama kali di sana. Sekalian mengenalkan Disha kepada keluarga besar suami.

Hari Rabu, tanggal 6 Juni 2016 Pukul 01.00 WIT saya, suami dan Disha tiba dengan selamat di Bandar Udara Sultan Babulaah Ternate. Selama dua hari kami menghabiskan waktu dengan bersilaturahim ke keluarga. Barulah pada hari ketiga kami berjalan-jalan, bersantai menikmati panorama alam.

Hanya butuh satu hari perjalanan dengan mobil untuk mengelilingi Ternate. Meski begitu, tidak semua tempat wisata sempat kami singgahi. Karena ternyata sehari tidaklah cukup untuk menjelajahi kecantikan kota di kaki Gunung Gamalama ini.

Penasaran? Berikut ini beberapa destinasi yang bisa dijadikan referensi saat berlibur ke Ternate.

  1. Pantai Sulamadaha

Di beberapa foto-foto yang sempat saya lihat di media sosial Instagram, Pantai Sulamadaha merupakan sebuah pantai yang sangat indah. Airnya berwarna toska dan sangat jernih. Pasirnya berwarna putih bersih. Tapi, untuk bisa melihat spot sebagus itu harus berjalan dulu sekitar 1-2 km di jalan setapak yang menuju ke seberang bukit. Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, jadilah saya hanya berfoto di sekitar pantai yang terdapat saung-saung kecil untuk berteduh atau menikmati cemilan.

Memang tidak sebagus Pantai Sulamadaha yang berada di balik bukit. Walau begitu, saya dan keluarga cukup menikmati kunjungan singkat tersebut. Kami sempat berfoto ria di depan pantai yang dengan latar belakang Pulau Hiri.

Pantai Sulamadaha
  1. Danau Tolire Kecil

Alkisah, pada zaman dahulu kala di kaki Gunung Gamalama berdiri sebuah perkampungan yang tenang dan damai. Sayangnya, kedamaian itu terusik  dengan sebuah kejadian luar biasa yang  membuat seisi kampung marah. Seorang ayah menghamili anak kandungnya sendiri. Mereka dilaknat dan diusir. Ternyata yang murka bukan hanya penduduk kampung saja, tetapi juga Tuhan.

Danau Tolire Kecil dengan latar belakang pantai

Ketika Si Ayah dan Anak tersebut akan pergi, terjadilah gempa yang dahsyat. Perkampungan tempat mereka tinggal amblas. Menghilang ke dalam perut bumi. Menelan seluruh warga ke dalamnya. Termasuk juga Si Ayah yang belum sempat melarikan diri. Tanah amblas itu menyisakan ceruk besar yang kemudian menjadi Danau Tolire Besar.

Sedangkan Si Anak yang sedang berusaha menyeberang melalui laut harus bernasib naas, karena tempatnya berpijak juga ikut runtuh. Tempat berpijak Si Anak itulah yang menjadi cikal bakal Danau Tolire Kecil. Danau ini berada tepat di bibir pantai. Beberapa meter saja dari air laut. Hanya dipisahkan pasir pantai.

Berdasarkan cerita dari saudara, di Danau Tolire Kecil hidup seekor buaya putih yang memakai kalung. Pada beberapa kesempatan buaya itu akan menampakkan diri. Konon katanya, buaya itu adalah jelmaan dari Si Anak yang tidak sempat menyeberang.

Akses masuk ke Danau Tolire Kecil dari arah jalan raya
  1. Danau Tolire Besar

Danau ini menyimpan sebuah misteri. Dimana jika ada seseorang yang melemparkan sesuatu ke danau, maka benda tersebut tidak akan jatuh di atas permukaan air.

Jalan masuk menuju Danau Tolire Besar

Saya pernah mencobanya saat pertama kali datang ke tempat ini. Batu yang saya buang memang tidak menyentuh air, hilang begitu saja. Seperti sihir. Berbeda kejadiannya ketika orang yang menjual benda itu (sudah sangat lazim penduduk sekitar menjual batu untuk dilempar pengunjung) menghempaskannya ke arah danau. Ajaibnya batu itu langsung tenggelam.

Beberapa pakar mengemukakan beberapa teori terkait hal misterius tersebut. Di antaranya mengatakan bahwa ada sebuah daya tarik yang sangat kuat di sisi danau yang memungkinkan benda-benda tersedot ke dalamnya sebelumnya mencapai air.

Ada juga yang mengatakan sesungguhnya ketinggian danau dari tepian sampai ke air sangat jauh. Mungkin mencapai 1 km atau lebih sehingga tidak memungkinkan mata telanjang melihat sesuatu jatuh ke dalamnya. Tapi, bagaimana teori ini bisa diterapkan untuk benda yang dilempar orang-orang tertentu yang bisa menyentuh permukaan air?

Lain lagi halnya dengan cerita warga Ternate.  Mereka mengatakan ada sebuah kekuatan yang menarik benda-benda yang dihempaskan tersebut.

Wallahu a’lam.

Danau Tolire Besar
  1. Pemandangan Pulau Maitara

Hampir saja saya melewatkan tempat yang satu ini. Kalau tidak karena mata yang berkonsentrasi melihat ke sekitar mungkin saja akan terlewati begitu saja.

Ini adalah pemandangan yang sangat terkenal. Yang setiap harinya kita lihat di pecahan uang Rp.1000.

Meski bukan spot yang terbagus. Walau wajah saya gelap. Biar pun fotonya sangat terburu-buru, tapi setidaknya momen saya sudah sempat diabadikan disini.

  1. Kedaton Kesultanan Ternate

Ini adalah foto Kedaton Kesultanan Ternate. Berdasarkan info dari pemandu kami yang juga penjaga kedaton, bangunan ini bentuk dan arsitekturnya tetap terjaga dari pertama kali dibangun sampai dengan saaat ini. Memang sudah ada beberapa bagian yang dipugar, tapi tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

FYI (For Your Information) nih, tidak sembarang orang bisa masuk ke kompleks ini, loh. Hanya bisa masuk di waktu-waktu tertentu saja. Seperti acara pesta rakyat dan sejenisnya. Atau telah mendapat izin terlebih dahulu dari orang dalam.

Tangga menuju kedaton

Waktu pertama kali datang ke tempat ini, saya dan teman-teman cuma berani foto di depan pintu gerbang saja. Takut dimarahi karena ada penjaga yang bersenjatakan tongkat di tempat ini.

  1. Pemandian 7 Puteri

Dahulunya kolam ini ialah sebuah pemandian. Sering digunakan para putri zaman dulu untuk membasuh diri atau mandi.

Sekarang memang hanya dijadikan telaga biasa. Meski begitu tidak semua orang bisa sembarangan masuk ke dalam lokasi ini.

  1. Museum Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah

Masih dalam kompleks Kedaton Kesultanan Ternate. Kali ini saya berkesempatan masuk ke dalam Museum Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah.

Pada saat pertama kali pintu dibuka, tampak di depan mata saya dan suami sebuah kereta kencana yang sangat indah. Tak bisa kami tampik suasana di dalam sangat magis terasa. Bulu roma  saya terus berdiri saat berada di dalam museum yang hanya menyimpan satu benda pusaka milik kesultanan, yaitu kereta kencana ini.

Benda ini adalah kendaraan sultan dan keluarga turun temurun. Saya tidak sempat bertanya sejak sultan keberapa atau kapan kereta ini dipakai, karena terlalu terpaku akan pesonanya. Berdasarkan info yang saya dapat, kereta ini harus dipikul oleh 30 orang saking beratnya.

Ketika saya dipersilahkan duduk di pijakan kaki untuk berfoto, sungguh jantung saya berdetak tak karuan. Entah karena pengaruh suasana atau sugesti, saya hanya merasa ada seseorang yang memperhatikan dari dalam kereta.

 

  1. Benteng Tolukko

Berada di atas sebuah bukit, agak mengarah ke pantai. Benteng ini cantik dengan caranya sendiri. Meski di Ternate terdapat beberapa benteng, tapi Benteng Tolukko adalah salah satu yang paling terkenal. Di kelilingi oleh taman yang indah, lokasi ini bisa menjadi objek foto yang sangat bagus.

  1. Batu Angus

Batu Angus adalah destinasi wisata yang sangat cantik. Tepat berada di pinggir tebing menjorok ke laut dengan pemandangan matahari terbenam yang luar biasa. Walau pun indah, Batu Angus menyimpan cerita memilukan dan mistis.

Diceritakan bahwa dahulunya di tempat ini ada sebuah desa yang kemudian luluh lantak diterjang lahar panas dari Gunung Gamalama. Memang benar adanya jikalau Batu Angus merupakan salah satu jalur lava. Karena itu, di sekitar tempat ini jarang ada warga yang bermukim..

Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah gundukan batu keras berwarna gelap beraneka rupa. Jelmaan dari magma yang sudah mengeras. Seperti kristal hitam yang berserakan membentuk pola indah di sebuah lahan yang luas. Menjadikan tempat ini memesona dengan caranya sendiri.

Di antara bebatuan yang bentuknya tak beraturan itu, berdiri tegak sebuah batu. Di bibir tebing. Menghadap ke Pulau Hiri. Tepatnya ke arah mentari yang akan menghilang di balik pulau.

Batu itu berdiri kokoh. Tegak seperti manusia. Memiliki rongga serupa mata. Ujung atasnya layaknya memakai turban. Depan batu yang mengarah ke Pulau Hiri, menyerupai tangan yang bersatu. Tepat posisinya untuk melaksanakan salat. Batu itu disebut ‘Batu Sembahyang’

Saudara saya sempat bilang, bahwa batu itu tidak boleh difoto. Pamali’ katanya. Saya sendiri sebenarnya tida melihat keberadaan benda itu. Nanti ditunjuk barulah saya memperhatikannya dengan saksama.

Yang saya tunjuk adalah Batu Sembahyang. Letaknya tidak jauh dari tempat saya berdiri
  1. Taman Nukila

Last but not least. Taman Nukila. Karena waktu yang tidak cukup untuk mengexplore taman ini, jadinya cuma foto aja di depan tulisannya. Waktu pertama kali ke Ternate, tahun 2013 silam, taman ini belum ada. Ini tempat wisata yang belum lama dibangun pemerintah.

Tempatnya romantis dengan lampu-lampu taman yang menyala indah. saat yang paling tepat kesini adalah ketika menjelang matahari terbenam atau malam hari.

Sayang, sayang belum sempat menjelajah di Pantai Falajawa lagi. Hanya singgah sebentar saja, bahkan untuk sekedar berfoto pun tak cukup waktu.

Demikian cerita jalan-jalan saya di Ternate. Semoga kawan semua bisa menikmati suguhan ceritanya yang unik serta foto pemandangan yang cantik.

  InsyaAllah di lain kesempatan saya akan menyajikan pesona Tidore yang sesungguhnya tidak kalah eloknya dari Ternate. Juga beberapa destinasi bagus Ternate yang saya lewatkan karena keterbatasan waktu.

 

See yaa ^^v

#TantanganODOP6 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi #nonfiksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here