PENDEKATAN PERSUASIF SOLUSI TEPAT MENGHADAPI ANAK YANG AKTIF (1)

0

“Sayang, hati-hati, yah! Awas jatuh!”

            “Nak, nanti pecah gelasnya.”

            “Sayaaanggg….itu obeng. Jangan dimainin. Berbahaya.”

            “Naaakk…Mama kan sudah bilang jangan kesana-kemari.”

            “Naakkk.. Bunda kan udah bilang jangan, kok masih membangkang juga?”

            “Apa juga Mama bilang? Enggaj salah, kan? Makanya jadi anak harus dengar-dengaran.”

Untuk ibu-ibu yang punya anak balita pasti kata-kata seperti ini sudah tidak asing lagi yah. Apalagi untuk ayah bunda yang anaknya sangat aktif.

Punya anak yang aktif pastilah menjadi berkah tersendiri bagi orang tua. Keaktifan seorang anak merupakan tanda bahwa ia mengalami tumbuh kembang yang baik. Tapi, kadang-kadang anak aktif membawa kerepotan tersendiri bagi beberapa orang tua.

Alhamdulillah, saya mengalami sendiri kehebohan yang asyik ketika merawat anak yang memang sangat aktif. Rasa keingintahuan yang cukup besar membuat saya seringkali merasa jengkel bahkan marah. Apalagi jika menjurus ke hal-hal yang berbahaya. Sungguh saya akan murka. Tapi, apakah ini memang merupakan sebuah cara yang baik dalam menegur anak? Apakah memang amarah adalah jalan keluar yang paling mudah ditempuh? Yang paling mujarab?

Ternyata anggapan ini salah besar. Tidak perlu saya tanyakan ke para ahli atau psikolog. Anak sendiri yang menyanggahnya dengan sikap antipati.

Iya betul. Setiap kali saya marah kepadanya, dia akan menunjukkan sikap membangkang. Seringkali malah saya dimarahi balik oleh dia. Tentunya sikap seperti ini bukanlah yang diharapkan.

Awalnya, saya sempat bingung bagaimana caranya merubah sifatnya yang seperti itu. Kemudian saya menyadari bahwa untuk merubah sikap anak maka orang tualah yang terlebih dahulu  harus melakukan introspeksi.

Pelan-pelan saya mengurangi intensitas kemarahan. Saya mulai menerapkan pendekatan persuasif (membujuk secara halus) setiap kali anak melakukan sesuatu yang tidak disukai. Misalnya ketika dia bermain obeng atau alat pertukangan yang berbahaya. Melalui bahasa yang halus, intonasi suara yang lembut, serta gerakan yang tidak mengancam saya mintanya untuk melepaskan alat-alat tersebut.

Seperti sihir dia mendengarkan semua yang saya katakan. Terbuktilah bahwa pendekatan persuasif ialah solusi yang jitu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here