PENDEKATAN PERSUASIF SOLUSI TEPAT MENGHADAPI ANAK YANG AKTIF

0

 

“Sayang, hati-hati, yah! Awas jatuh!”

            “Nak, nanti pecah gelasnya.”

            “Sayaaanggg….itu obeng. Jangan dimainin. Berbahaya.”

            “Naaakk…Mama kan sudah bilang jangan kesana-kemari.”

            “Naakkk.. Bunda kan udah bilang jangan, kok masih membangkang juga?”

            “Apa juga Mama bilang? Enggaj salah, kan? Makanya jadi anak harus dengar-dengaran.”

Untuk ibu-ibu yang punya anak balita pasti kata-kata seperti ini sudah tidak asing lagi yah. Apalagi untuk ayah bunda yang anaknya sangat aktif.

Punya anak yang aktif pastilah menjadi berkah tersendiri bagi orang tua. Keaktifan seorang anak merupakan tanda bahwa ia mengalami tumbuh kembang yang baik. Tapi, kadang-kadang anak aktif membawa kerepotan tersendiri bagi beberapa orang tua.

Alhamdulillah, saya mengalami sendiri kehebohan yang asyik ketika merawat anak yang memang sangat aktif. Rasa keingintahuan yang cukup besar membuat saya seringkali merasa jengkel bahkan marah. Apalagi jika menjurus ke hal-hal yang berbahaya. Sungguh saya akan murka. Tapi, apakah ini memang merupakan sebuah cara yang baik dalam menegur anak? Apakah memang amarah adalah jalan keluar yang paling mudah ditempuh? Yang paling mujarab?

Ternyata anggapan ini salah besar. Tidak perlu saya tanyakan ke para ahli atau psikolog. Anak sendiri yang menyanggahnya dengan sikap antipati.

Iya betul. Setiap kali saya marah kepadanya, dia akan menunjukkan sikap membangkang. Seringkali malah saya dimarahi balik oleh dia. Tentunya sikap seperti ini bukanlah yang diharapkan.

Awalnya, saya sempat bingung bagaimana caranya merubah sifatnya yang seperti itu. Kemudian saya menyadari bahwa untuk merubah sikap anak maka orang tualah yang terlebih dahulu  harus melakukan introspeksi.

Pelan-pelan saya mengurangi intensitas kemarahan. Saya mulai menerapkan pendekatan persuasif (membujuk secara halus) setiap kali anak melakukan sesuatu yang tidak disukai. Misalnya ketika dia bermain obeng atau alat pertukangan yang berbahaya. Melalui bahasa yang halus, intonasi suara yang lembut, serta gerakan yang tidak mengancam saya mintanya untuk melepaskan alat-alat tersebut.

Seperti sihir dia mendengarkan semua yang saya katakan. Terbuktilah bahwa pendekatan persuasif ialah solusi yang jitu.

Memang bukan hal yang mudah bagi orang tua untuk menerapkan pendekatan semacam ini. Rasa lelah setelah bekerja. Ekonomi yang jauh dari sejahtera. Keadaan rumah yang tidak kondusif sering menjadi faktor utama kenapa sampai ayah dan ibu meluapkan amarah kepada anak. Luapan yang sering berubah menjadi kekerasan.

Meski begitu orang tua harus punya kesadaran yang tinggi agar bisa mengedepankan anak sebagai prioritas utama. Menjadikan kesabaran sebagai perisai ampuh untuk meredam rasa marah.

Sebagai contoh, seorang Kiki Barkiah. Sungguh saya pribadi sangat mengagumi beliau. Bagaimana dia bisa merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya yang berjumlah 5 orang. Tidak mudah. Tapi, dia bisa.

Saya saja yang anaknya baru 1 rasanya sudah sangat kewalahan. Tapi, koq beliau yang anaknya 5 bisa melakukannya. Padahal beliau dan suaminya hidup di luar negeri (Amerika Serikat), tanpa sanak saudara, tanpa asisten rumah tangga.

Bahkan, mereka masih sanggup menerapkan SQ (Spiritual Question), EQ (Emosional Question), dan IQ (Intelektual Question) secara seimbang dengan segala kerepotan yang melanda. Yang tidak semua orang tua dapat melakukannya. Entah yang anaknya banyak atau hanya sedikit.

Ternyata salah satu metode yang diterapkan beliau adalah pendekatan persuasif. Dimana dia tidak memaksakan kehendaknya kepada anak. Beliau mengikuti kemauan anak tanpa menyampingkan ketegasan dan proses pembelajaran. Beliau acap kali mengajak anaknya mengobrol untuk menyampaikan perasaan mereka masing-masing. Tentang harapan, rasa marah, kesal, kecewa arau perasaan sedih yang dirasakan Mencari solusi bersama untuk pemecahan sebuah masalah. Agar tidak ada yang merasa kepentingannya terabaikan. Anak merasa bahagia karena bisa ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan

Jadi, saya rasa marah tetap bukanlah solusi. Marah mungkin hanyalah senjata bagi orang tua untuk melampiaskan tekanan dari dalam dirinya.

Intinya jika ingin mendapatkan anak yang aktif, tapi tetap patuh, orang tua harus membekali diri dengan pemecahan yang apik. Anak aktif, cerdas dan bahagia tanda orang tua sukses menjalankan perannya.

Semoga Allah Subhana Wata’ala selalu memampukan kita menjadi orang tua yang berlimpah kesabarannya. Aamiin ya Rabb…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here