Geliat di Balik Sebuah Taman Kota

15
Tugu di tengah Taman

Kota Kotamobagu merupakan salah satu dari daerah pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah daerah yang terletak di propinsi Sulawesi Utara. Awalnya Kota Kotamobagu menjadi satu bersama dengan empat kabupaten yang lain yaitu Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow Utara, dan tentu saja induk semangnya, Bolaang Mongondow.

Yang ingin saya bahas disini bukanlah sejarah pembentukan Kota Kotamobagu dan empat daerah tetangganya. Melainkan perjuangan panjang eksistensi sebuah taman yang terletak di pusat Kota Kotamobagu. Taman yang menjadi wajah sejati sebuah kota, yang harusnya mencerminkan kepribadian para penghuninya.

Taman ini awalnya bernama Taman Marlina. Sesuai dengan nama bupati (Marlina Moha Siahaan) yang menggagas pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow menjadi satu kotamadia dan empat kabupaten. Entah kenapa sekarang lokasi itu berubah nama menjadi Taman Kota Kotamobagu.

Ketika matahari mulai merangkak di langit, bisa telihat dengan jelas pepohonan rindang melingkupi tempat ini. Kursi-kursi beton berjejer, melingkar rapi di tepiannya. Sebuah tugu yang menggambarkan keseharian rakyat Bolaang Mongondow lengkap dengan air mancur, berdiri gagah di tengah taman ini.

Keteduhannya merasuk sampai ke dalam hati. Bahkan, sengat Sang Surya di tengah hari tidak sanggup mengurangi pesonanya.

Dulunya lokasi ini adalah sebuah pusat jajanan lokal. Tempat ini menjadi sarang berkumpul para penjual makanan kaki lima dengan berbagai jenis varian rasa, asal masakan,  dan suku. Karena kesemrawutannya akhirnya lokasi ini diubah fungsi menjadi taman.

Sekarang,  Taman Kota Kotamobagu menjadi arena berbagai macam orang untuk berkumpul dan melakukan aktifitas. Subuh menjelang pagi pasukan oranye bergerilya mencari sampah untuk dibersihkan disana. Di kala traffic jam lokasi ini berubah fungsi menjadi terminal dadakan. Siswa-siswa, para pegawai, supir angkot lengkap dengan kendaraannya, bentor dengan pengendaranya bersatu padu di tempat ini. Menjelang siang para pengusaha kaki lima mulai beraksi. Dari penjaja koran, pedagang durian, sampai penjual mainan. Sore hari menjadi puncak pertemuan mereka semua.

Sayangnya, saat malam tiba arena berubah. Lokasi ini menjadi tempat hinggap berbagai macam kupu-kupu malam. Mulai dari yang jantan sampai betina, bahkan yang tidak jelas jenis kelaminnya pun mampir disini.

Saya bersyukur dengan sangat para kupu-kupu malam mulai terbang menjauh ketika subuh menjelang. Azan subuh yang agung sanggup mengusir mereka tak bersisa. Taman Kotamobagu kembali lengang dan bersiap memulai rutinitasnya.

 

(Bersambung)

15 COMMENTS

  1. Mbaaa, fotonya kuranga banyak, hihii … pasti bagus banget yaa. Cuma sayang banget kalau kemudian berubah jadi tempat kupu-kupu malam, hiks. Semoga bisa disterilkan ya dari segala macam bentuk penyalahgunaan.

  2. Wah..mungkin namanya dirubah karena sebelumnya nama orang (bupati)..maka mending jadi nama umum saja, Taman Kota KOtamobagu.

    wah bikin penasaran nih taman kotanya…fotonya bisa ditambah Mbak biar lebih lengkap:)

  3. Semoga ada perbaikan dan tindakan tegas dari pemerintah kota ya mbak.
    Biar fungsi taman kota bisa dikembalikan untuk layanan publik, bukan untuk layanan kurang baik …

  4. Salah satu kelemahan sebuah taman adalah dihinggapi kupu-kupu malam saat matahari digantikan rembulan. Entahlah, seperti alamiah terjadi. Sedih, ya. Fotonya tambahin, dong. Pengen lihat deh keindahan taman-taman di kota lain.

  5. Aku paling sebel ni kalau liat taman kota jadi tempat mesum. Semoga pemerintah setempat bisa memberikan perhatian lebih ya mbak. Sayang aja taman bagus gitu ga dimaksimalkan untuk kebaikan warganya.

Leave a Reply to Dian Restu Agustina Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here