STOP Plagiarisme!!!

2

Bismillah…

“Saya dan suami….

Kami berdua adalah pribadi yang individualis. Menjalani pernikahan dengan batas privasi masing-masing. Menikah tanpa kehilangan jati diri. Melebur dalam cinta tanpa kehilangan identitas.

Bagi kami menikah bukan berarti harus nempel kayak perangko kemana-mana. Yang penting Komunikasi lancar bak air mengalir. Kami saling percaya dengan kegiatan dan lingkungan pergaulan satu sama lain.

Saya tidak perlu diantar kesana kemari, karena memang saya tidak suka. Suami juga tidak perlu ditemani setiap saat, sebab dia juga gak suka.

Sebagai pribadi individual, tidak banyak orang mengerti kebahagiaan kami yang seperti ini. Dan kami juga tidak mau repot-repot menjelaskan alasannya kepada semua orang.

Karena sekali lagi ini pernikahan kami. Kami yang rasakan dan jalani. Tidak perlu ‘cap’ orang lain untuk menyatakan kami bahagia.

Karena bahagia kami yang ciptakan. Bukan orang lain yang menentukan.

Demikian…”

Status FB Saya

Kira-kira begitulah isi tulisan yang saya tulis di status Facebook dan juga Instagram tanggal 2 Agustus 2019 kemarin. Tidak nyana, tulisan sederhana yang disertai foto saya dan suami ini menuai beberapa ratus likes dan beberapa komentar positif.

Foto Instagram

Tapi, ternyata di balik antusiasme positif yang saya terima, ada juga hal negatif yang saya rasakan. Tulisan ini di copy paste oleh salah satu teman yang menggunakan Instagram, tanpa meminta izin terlebih dahulu. Saya hanya kebetulan membuka IG dan mendapati tulisan ini nangkring cantik di statusnya.

Instagram Teman yang Copas Status

Perasaan saya gimana? Jengkel sudah pasti. Makin sebal ketika saya komentari statusnya dan tanpa dosa hanya dijawabnya dengan emoticon tepuk tangan dan love. Piye to?

Meski jauh dari predikat penulis beken dan sukses, tetap saja saya tidak suka jika tulisan yang dibuat sebaik mungkin, diedit beberapa kali untuk mendapatkan kalimat yang enak dibaca, diambil begitu saja tanpa mencantumkan nama saya sebagai pemikir di baliknya.

Tulisan ini juga saya buat tanpa bermaksud membuka aib atau menyindir kawan saya ini, lebih kepada sebuah pengingat bahwa kita harus lebih menghargai karya yang dihasilkan seseorang. Sebagai penulis tentu saja yang saya tekankan adalah karya tulis.

Sebenarnya kebiasan copy paste ini sering juga kita lakukan. Sadar atau tidak sadar. Bukan cuma tulisan saja. Foto, film, dan lain sebagainya. Hanya saja rendahnya pemahaman terhadap adab dalam meminta izin masih rendah di kalangan masyarakat. Mungkin karena pemikiran bahwa ini adalah hal yang sepele. Meski sesungguhnya bagi penghasil karya, hal ini tidak sesepele itu. Ada usaha di baliknya. Kecil atau besar itu tetap adalah sebuah pencapaian yang harus dihargai.

Karena itulah mulai dari sekarang, yuk tanamkan kebiasaan meminta izin dulu ke empunya tulisan, sebelum disebarkan.

Demikian….

Sumber foto : Editan Pribadi

2 COMMENTS

  1. Kalo aku pernah foto mba di Ig secara gak sengaja itu juga taunya dan tyt bener fotoku karena ada watermarknya kecil…

    Intinya adalah etika ya mba, meminta izin untuk menyebarluaskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here