Yang Miskin Dilarang Sakit (1)

0

Aku melangkah tergopoh-gopoh ke arah kamar ibu saat ku dengar beliau memanggilku. Kutinggalkan begitu saja masakanku yang belum matang. Sesampainya dikamar beliau, aku melihat pecahan beling yang berserakan di lantai. Ternyata tak sengaja ibu memecahkan gelas yang kuletakkan di atas meja samping tempat pembaringannya. Tubuh ringkihnya yang tak berdaya mencoba memunguti pecahan dari pinggir tempat tidur. Aku langsung menghentikan usaha ibu sebelum terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan. Kubaringkan kembali tubuhnya yang gemetaran tak berdaya. Sebuah kata maaf dan beberapa bulir air mata yang jatuh mewakili perasaan bersalahnya.

“Tidak apa-apa, bu” Jawabku meyakinkan beliau bahwa apa yang terjadi barusan sama sekali tidak masalah buatku.

Sudah tiga hari ini ibuku sakit. Kondisi kesehatan beliau memang sudah semakin menurun semenjak kepergian bapak lima tahun yang lalu. Sebagai kepala rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga, ibu membanting tulang menjadi buruh cuci harian. Kesana kemari mencuci pakaian tetangga. Berusaha memenuhi kebutuhan sekolahku dan kedua adikku serta biaya makan sehari-hari dengan upahnya yang tidak seberapa. Aku sering turun tangan membantu beliau. Tidak jarang kedua adikku ikut membantu dengan menjadi loper koran dan tukang semir sepatu.

***

“Minah, tolong baju ini dicuci yah. Si Putri mau ikut acara tujuh belasan minggu depan.” Ibu Susi, tetanggaku menyodorkan satu stel baju kebaya anak-anak ke arahku. Aku menerimanya dan menatap baju itu berlama-lama. Terbayang adikku yang kedua. Ia ingin sekali dibelikan kebaya seperti ini. Walaupun ia tidak pernah mengatakannya secara langsung kepadaku ataupun ibu akan keinginannya.

“Oh yah, sekalian aja sama bajunya Putra.” Ibu Susi kembali menyodorkan baju ke arahku. Kali ini seragam polisi anak-anak. Air mataku hampir saja terjatuh saat ingat adik pertamaku yang ingin sekali menjadi seorang polisi.

Dalam diam aku terus mencuci, menggantikan ibu yang sudah tidak mampu lagi mengerjakan tugas berat seperti ini. Dalam diam air mataku berlinang mengingat harus berhenti sekolah dan merelakan cita-citaku menjadi seorang guru. Membiarkan adik-adikku yang meneruskan perjuanganku di bangku sekolah. Dalam diam aku bertanya kepada Tuhan.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here