Yang Miskin Dilarang Sakit (3)

0

Aku menatap tulisan apotik dihadapanku. Tak sanggup berkata-kata apalagi masuk dan membeli obat untuk ibu.

“Tak apa-apa nak. Kita tebus saja semampu kita”. Ibu berusaha membesarkan hatiku yang sebenarnya sudah menciut menjadi kerdil semenjak mendengar kenyataan akan kesehatan ibu.

Aku memandang wajahnya yang dipenuhi dengan gurat-gurat kehidupan. Air mataku kembali meleleh. Tangisku pecah. Kupeluk tubuhnya yang kurus kerontang. Aku berteriak. Tak sanggup menanggung kenyataan bahwa mungkin sebentar lagi tubuh yang memberiku kehidupan tak bisa lagi kupeluk.

Ibuku hanya diam dalam pelukanku yang semakin kueratkan. Beliau mengelus punggungku. Mencoba menenangkanku dengan kehangatan cintanya seperti biasa. Penyakit kanker mungkin menggerogoti tubuhnya, tetapi tidak dengan cintanya padaku.

Aku sadar seharusnya saat ini akulah yang harus tabah. Akulah yang harus menjadi kekuatannya. Akulah yang harus kuat. Tetapi aku tak bisa. Sungguh aku tak sanggup.

***

Aku dan adik-adikku berlari sepanjang koridor rumah sakit yang menuju ke IGD (Instalasi Gawat Darurat). Berteriak kepada perawat ataupun dokter yang kami temui untuk segera mengobati ibu. Sore tadi beliau pingsan tak sadarkan diri karena batuknya yang semakin menjadi. Biasanya saat beliau pingsan seperti itu, tak lama kemudian beliau akan sadar kembali. Tetapi kali ini berbeda. Kami sudah berusaha membangunkan beliau tetapi hasilnya nihil.

Saat kami tiba, kami belum langsung ditangani karena semua petugas IGD sedang sibuk. Aku berteriak keras saat antrian kami diserobot oleh serombongan keluarga kaya yang tergopoh-gopoh membawa seorang anak remaja yang kecelakaan. Remaja tanggung itu kebut-kebutan dengan motor besarnya saat mengikuti rombongan pawai obor yang dilaksanakan untuk memeriahkan Acara Tujuh Belasan Besok hari.

Seorang perawat menenangkanku. Mencoba memberikan penjelasan bahwa yang paling daruratlah yang harus didahulukan untuk diberi pertolongan. Aku bersikeras bahwa keadaan ibuku tidak kalah daruratnya. Dengan sengit aku memandang kekuarga kaya itu. Dan ibu remaja tanggung itu hanya memandangku dengan angkuh saat ia hilang di balik tikungan koridor. Aku langsung teringat artikel yang kubaca dari koran yang biasa dijajakan adikku. “Yang Miskin Dilarang Sakit”.

***

Merah gundukan tanah di hadapanku. Basah oleh air mataku dan kedua adikku. Semalam ibuku tak tertolong. Tak sempat ditangani oleh dokter dan perawat yang ada di rumah sakit. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir ia hanya berpesan untuk menjaga kedua adikku.

Saat kuburannya akan ditimbun dengan tanah, sayup-sayup kudengar dari jauh suara orang-orang serentak menyanyikan lagu “Indonesia Merdeka”.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here